YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Senin, 25 September 2017  - 3 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


01.06.2009 13:23:42 1965x dibaca.
ARTIKEL
BELAJAR DARI MENGAJAR

Oleh: Yulius Adi Utomo
         Pembina Yayasan Pangudi Luhur

Orang kebanyakan mengetahui, bahwa salah satu tugas mulia guru adalah “mengajar”, atau mendampingi peserta didik dalam proses pembelajaran. Dari proses pembelajaran itu diidamkan oleh banyak pihak (guru/sekolah, orang tua siswa, bahkan pemerintah) akan terbentuk generasi muda yang berkualitas, berakhlak mulia, dan beretos kerja. Singkat kata, orang mengharapkan melalui proses pembelajaran akan tercipta generasi penerus yang handal, siap menghadapi tantangan jaman dan perubahan-perubahan yang serba cepat, dan bersifat mendunia/mengglobal.                       


Pertanyaan yang muncul menyertainya adalah, dapatkah hal tersebut terpenuhi? Artinya bahwa melalui proses pembelajaran akan terbentuk generasi yang cerdas, berbudi luhur, beriman, dan punyai semangat kerja yang tinggi? Jawaban yang benar adalah, dapat saja terjadi, dan terpenuhi, tetapi dapat juga gagal dan tidak terpenuhi. Hasil yang diperoleh akan sangat bergantung pada bagaimana proses pembelajaran tersebut terjadi, bermutu, atau tidak (memberdayakan peserta didik atau tidak).        Cobalah kita belajar dari proses mengajar itu sendiri. Sering kita menjumpai ada siswa yang sangat aktif di kelas, ia selalu bertanya tentang materi pelajaran yang sudah diberikan guru.


Sering terjadi guru tergesa-gesa menjawabnya, karena dengan demikian siswa akan segera terpuaskan, ia segera memperoleh kejelasan atas masalah yang tidak ia mengerti. Dan dengan demikian pula, guru merasa telah memenuhi kewajibannya yaitu mencerahi persoalan yang sedang dihadapi peserta didiknya. Tetapi, sebenarnyalah dengan cara seperti itu kita telah menciptakan anak-anak untuk tidak belajar secara mandiri, tidak mencari pemecahan sendiri atas persoalan yang sedang dihadapi. Mereka terbiasakan menerima pemecahan yang diberikan pihak lain, dan kurang terbiasakan untuk menemukan sendiri jalan keluar atas persoalan yang sedang dihadapinya.               


Ada pepatah mengatakan : “Melihat sekali lebih jelas, daripada mendengarkan seribu kali”. Dan “mengalami/melakukan sekali, akan lebih jelas daripada melihat seribu kali”. Coba kita bayangkan, ketika seorang guru olah raga mengajari anak didiknya belajar berenang, dan sang guru hanya berceritera tentang cara berenang yang baik, kemudian muridnya diajak pergi ke kolam renang untuk melihat orang lain yang sedang berenang, tetapi tidak pernah mengajari muridnya secara langsung berenang di kolam/air. Bayangkan apa yang terjadi?Barangkali sang murid akan hafal betul tentang cara berenang yang baik, dan jika diberi tes hasilnya pun akan bagus.                       


Sekarang kita bayangkan pula, murid tersebut kita bawa ke kolam renang, lalu suruhlah ia terjun ke kolam untuk berenang. Apa yang terjadi………? Bisa jadi anak tersebut tenggelam, minum air kolam, kenyang dengan air kolam, dan dapat terancam jiwanya. Para ahli Psikologi mengatakan, hasil proses belajar akan nampak pada adanya perubahan tingkah laku peserta didik. Artinya, proses belajar dikatakan berhasil bila pada diri peserta didik yang belajar tersebut, telah terjadi perubahan tingkah laku secara positip.                                   


Belajar dari proses mengajar itu sendiri, sudah sewajarnyalah kita perlu menemukan cara terbaik, yang lebih memberdayakan anak, yaitu untuk mengalami sendiri, melakukan sendiri, mencari sendiri, dan menemukan sendiri, dan bukan sekedar mendengarkan atau melihat saja. Dari konteks inilah, maka jika seorang siswa mengajukan sebuah pertanyaan pada saat proses pembelajaran di kelas, tidak seharusnya guru langsung menjawabnya.                           


Akankah lebih membantu anak tersebut, bila sang guru mencoba meminta untuk menemukan jawabannya sendiri, mungkin dengan diberi rangsangan/pancingan-pancingan, atau sandi-sandi tertentu yang mengarah pada jawaban yang diminta. Singkatnya, dicoba dulu agar anak mencari sendiri jawabannya, pastilah ia akan lebih puas, ternyata ia mampu/bisa. Pada saat itulah perlu diberi pujian (reward) agar anak lebih bersemangat. Tetapi jika setelah dicoba dengan rangsangan-rangsangan tertentu murid tersebut tetap tidak menemukan jawabannya, berilah kesempatan anak lain untuk menjawabnya (Budi, misalnya).               


Jika Budi, atau anak lain yang ditunjuk sudah memberikan jawaban, berikan juga penawaran kepada anak yang lain lagi (Ali, misalnya), untuk menilai apakah jawaban Budi tersebut, betul atau salah. Jika Ali mengatakan bahwa jawaban Budi betul, dan sudah menjawab pertanyaan Nina (anak yang bertanya), maka merupakan saat yang tepat untuk memberikan pengasahan jawaban atas pertanyaan Nina tersebut. Akan lebih bagus lagi, jika Nina diminta mengulangi apa jawaban yang diberikan Budi, agar dengan demikian Nina paham betul atas jawaban temannya tersebut.                                          


Bila anak yang kedua (Budi) ternyata memberikan jawaban yang salah atas pertanyaan anak pertama (Nina), kemudian kita berikan penawaran kepada anak ketiga (Ali), dan Ali mengatakan bahwa jawaban Budi “salah”, maka tanyakan langsung kepada Ali, apa jawaban yang benar atas pertanyaan Nina. Jika Ali sudah memberikan jawaban, dapat juga diberikan penawaran kepada anak ke empat (Riyan, misalnya), untuk menilai apakah jawaban Ali tersebut betul atau salah. Jika Riyan mengatakan, jawaban Ali betul, maka cobalah meminta untuk mengulangi apa jawaban Ali tersebut. Jika Riyan mengatakan, jawaban Ali “salah”, maka mintalah kepada Riyan untuk memberikan jawaban yang betul/benar. Demikian dapat dilakukan sampai beberapa anak terlibat, agar semakin banyak anak ikut memikirkan atas sebuah persoalan yang ditanyakan siswa tertentu.                   


Prinsipnya, semakin banyak anak ikut aktif terlibat untuk mengalami sendiri, mencoba sendiri, dan menemukan sendiri, maka semakin banyak pula anak yang memperoleh pengalaman langsung, dan hal tersebut akan lebih berkesan di benak mereka serta lebih bermakna daripada sekedar menerima jawaban guru. Persoalan memang menjadi lain, jika telah mencoba beberapa anak untuk memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan yang muncul, dan setelah diberikan kesempatan kepada semua anak dalam kelas ternyata tak seorang murid pun dapat menjawabnya, maka baru sang guru perlu memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan siswa.


Posisi guru
Hindari pula menerangkan sesuatu di dalam kelas dengan posisi guru di tengah-tengah kelas (jika anak duduk berjajar urut seperti di dalam bus), karena akan menyebabkan anak yang berada di bagian depan susah mendengarkan, atau terpaksa memutar badan sehingga kurang nyaman. Posisikan fisik kita sedemikian rupa serta pastikan semua anak dapat melihat dan dapat mendengar secara jelas apa yang kita sampaikan. Gunakan kedua tangan untuk memperagakan atau memperjelas keterangan. Buatlah mimiek sedemikian rupa untuk menunjukkan sesuatu serius, penting atau memang hanya sebuah selingan sehat yang bersifat didaktis saja.


Sebaiknya juga jangan menghukum kelas, hanya karena kesalahan seorang anak. Jangan membiasakan diri untuk mengeluarkan anak dari kelas (sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran yang dilakukannya). Apalagi jika dilakukan tanpa kontrol yang baik, karena bisa jadi anak merasa lebih senang dihukum dengan cara demikian, sehingga hukuman seperti itu tidak bernilai paedagogis.                               


Jangan pula mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung rasa kesukuan, keagamaan, asal-usul, atau kondisi fisik anak (jika kita terpaksa harus marah kepada anak didik di dalam kelas). Karena hal demikian akan sangat melukai perasaan anak, dan dampak paedagogisnya menjadi hilang sama sekali, karena rasa tersinggung yang menyulut ranah SARA.       


Banyak-banyaklah menciptakan suasana kelas yang sejuk, menarik, menyenangkan, ringan, kreatif, tetapi tetap tertib, disiplin, dan kritis. Jika ada siswa yang dipandang sangat nakal, sangat mengganggu suasana kelas, maka panggil dan sebutlah namanya dengan ramah.


Coba pandanglah wajahnya, senyumlah, lalu perhatikan……., apa yang terjadi. Jika mata anak melotot nampak sangat marah, peganglah bahunya dengan lembut, tatap matanya dengan senyum bijak, lalu perhatikan…, apa yang terjadi ? Sangat menarik bukan. Sepertinya mustahil……,tetapi…..bukankah lebih baik kita mencobanya. Percayalah….air itu lembut, maka ia dapat mengalahkan yang terkeras sekalipun. Gigi itu rontok karena ia keras, tetapi lidah tetap ada karena ia lunak. Percayalah apa yang lembut lebih ampuh dalam mengalahkan keras.                       


Ini bukan resep, tetapi perlu dicoba. Ini memang sebuah teori, maka supaya menjadi pengalaman praktis perlu Anda mencobanya. Jangan pernah takut mencoba, gagal sekalipun. Karena seandainya gagal tetapi pernah mencoba, Anda akan menemukan cara lain yang barangkali lebih tepat guna. Mari mencoba hal-hal yang kecil dan sederhana untuk meraih sesuatu yang besar dan bermutu tinggi. Mengajar itu seni, maka carilah seni mengajar yang punyai nilai seni bagi sang peserta didik.






KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.144.21.195 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/