YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Senin, 25 September 2017  - 3 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


01.06.2009 13:28:03 1963x dibaca.
ARTIKEL
BUDAYA POP DALAM PENDIDIKAN

Oleh: Br. Albertus Suwarto, FIC

Kalau Anda sudi sejenak berhenti dari kesibukan dan kebisingan dunia ini, tentu menjadi baik bila kita sebagai pendidik bersama-sama menyadari sebagai pelaku-pelaku perubahan, mengamati kecenderungan perkembangan anak didik kita (anak muda remaja). Kita dapat melihat remaja-remaja hedonis berseliweran dengan potongan rambut moderen dengan busana top. Di sekolah-sekolah lanjutan dan kampus-kampus, kita dapat melihat hampir setiap siswa atau mahasiswa membawa handphone. Sekilas, tampak wajar semua pemandangan itu. Bahkan suatu saat seorang kepala sekolah men-sharing-kan kesulitannya mengambil kebijakan tentang HP yang membudaya di antara siswa-siswanya. Dulu kalau istirahat anak-anak membaca buku, sekarang jika istirahat yang dipegang HP.        


Iklim masyarakat sekarang memang sudah jauh berbeda. Dulu orang menganggap hidupnya merasa cukup bila rumahnya hanya dihiasi oleh radio. Gejala ini jika ditelaah dan dilihat dengan lebih lanjut, ada tendensi di mana manusia mulai jatuh ke dalam budaya pop. Hidup manusia yang seharusnya semakin mendalam dengan sarat makna dan nilai justru semakin mendangkal. Di kalangan remaja (generasi penerus bangsa), yang marak adalah bacaan novel ringan dan bahkan komik. Bacaan dengan analisis mendalam dan novel tebal bermutu hanya menjadi minoritas dalam urutan prioritas mereka.   


Kita sebagai pendidik dapat mengelak bahwa semua gejala itu adalah bentuk penyesuaian karena mengikuti perkembangan jaman. Benarkah ? Itu adalah rasionalisasi. Sejatinya, kenyataan kecenderungan manusia-manusia sekarang ini bukan sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman, melainkan masalah gengsi dan penghayatan hidup.                           


Bukti yang paling mengena, kemungkinan, adalah televisi yang telah menjadi candu bagi banyak manusia. Setiap hari kita disuguhi tayangan yang beraneka ragam, dan itu berlangsung terus-menerus setiap hari. Sebagian besar tayangan itu hanyalah meninggalkan kesan dangkal yang kering. Sinetron menampilkan gaya hiduptidak realistis, penuh kemewahan di jaman yang serba susah ini. Sebagian kecil mengena sebagai sebuah nilai kehidupan, tetapi sebagian besar dilupakan. Tayangan yang berkaitan dengan sisi kemanusiaan kita berupa bencana alam, perang, kelaparan yang demikian banyak membuat kita semakin tidak mampu lagi membangun kepekaan hati nurani. Hati tidak mudah lagi tergerak untuk berbelas kasih.


Dikatakan bahwa ini masalah gengsi karena kalau tidak turut menghanyutkan diri dalam budaya pop, kaum muda merasa dirinya tidak diakui. Kalau seorang siswa SMA apalagi mahasiswa tidak memiliki handphone seakan-akan ia adalah makhluk asing. Manusia sekarang jatuh ke dalam pendangkalan makna hidup. Penghayatan akan makna hidup menjadi dangkal. Kaum muda merasa keberadaannya tidak diakui jika tidak memiliki barang-barang duniawi semacam handphone, MP4, dsb.  


Unit-unit sekolah pun merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa memiliki fasilitas moderen. Bahkan kadang kehebatan sekolah diukur dengan berapa banyak LCD dan laptop yang dimiliki, kecanggihan ruang audio visual, kelengkapan lab bahasa dsb. Kita tidak pernah menyadari dengan fasilitas-fasilitas itu sebenarnya nilai apa saja yang ingin kita tanamkan pada anak didik kita. Brosur-brosur penerimaan siswa baru selalu menonjolkan sarana-prasarana yang hebat dan canggih, bukan suatu sistem pendidikan yang mampu menanamkan nilai kehidupan yang mendalam. Kriteria keunggulan suatu lembaga pendidikan bergeser kepada kepemilikan sarana-prasarana yang mewah, canggih dalam jumlah yang banyak.                   


Bila pendangkalan proses pendidikan ini terus dipelihara dan dibudidayakan, fungsi, tanggung jawab, makna dan esensi lembaga pendidikan akan melahirkan generasi muda yang semakin jatuh. Hasilnya adalah lahirnya sebuah generasi yang tidak memiliki bentuk-bentuk penghargaan terhadap manusia sebagai insan, misalnya: sulitnya seorang anak menghargai jerih payah orang tua dalam membiayai pendidikan dengan berpandangan bahwa itu sudah kewajiban orang tua, tindakan kejahatan yang semakin intens tingkat kekejamannya, tawuran, pembunuhan dengan korban yang dimutilasi. Ini dapat menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan manusia yang konon katanya manusia itu bermartabat.                   


Lembaga pendidikan harus terlibat dan menyadari tanggung jawabnya untuk bersama-sama dengan elemen masyarakat lainnya mengatasi persoalan tersebut. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk pemberi makna. Kenyataannya ada kecenderungan bahwa sekarang manusia terjebak dalam pendangkalan hidup. Kecenderungan mereka mengarah kepada budaya pop. Maka diperlukan usaha-usaha untuk mengatasi kecenderungan negatif ini. Lembaga pendidikan mempunyai kemampuan dan kesempatan yang istimewa untuk menginternalisasi nilai-nilai kehidupan kepada anak didik. Salah satu caranya refleksi.            


Refleksi adalah usaha untuk melihat kembali sesuatu secara lebih mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi menemukan nilai yang mulia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal hidup. Budaya pop menawarkan begitu banyak hal yang hanya berakhir sebagai kesan-kesan tanpa ada satupun yang dapat didalami dan dimaknai.


Dengan budaya refleksi, kesan-kesan itu dapat diendapkan. Satu persatu kejadian yang dialami selama satu hari itu dianalisis, dipertimbangkan, disimpulkan, dan akhirnya diendapkan dalam nurani. Dalam proses berefleksi, manusia diajak untuk turut menindaklanjuti sekian banyak pengalaman itu dengan proses-proses batin dan intelektual yang lebih lanjut dan mendalam. Alhasil, sejelek apapun kejadian hari itu, tetap didapatkan suatu nilai yang dapat menjadi bekal hidup selanjutnya.





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.144.21.195 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/