YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Kamis, 17 Januari 2019  - 1 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


19.02.2009 12:29:51 2255x dibaca.
ARTIKEL
DIKONTROL, KONSISTEN DAN JADIKAN GAYA HIDUP SEKOLAH

Oleh: Dr. Sutanto S.Si, Dea., Ir. Justiani Liem Msc

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah harus menjadi bagian dalam kehidupan pendidikan modern. Tanpa memanfaatkan, menggunakan dan mengoptimalkan Teknologi Informasi (TI) ini kita akan ketinggalan jaman, kalah bersaing  dan tidak maju (stagnan).


Demikian pokok-pokok pikiran yang diperoleh Bianglala dari tiga pakar teknologi informasi, yang dimintai pendapatnya berkaitan dengan tema Bianglala ”Optimalisasi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)”. Ketiga pakar tersebut antara lain : Dr. Sutanto S.Si. DEA, Kepala Pusat Komputer Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta dan Penanggung Jawab teknis PSB online (2006-2007) Kota Solo. Juga Ir. Justiani Liem Msc., wanita telematika pertama di Indonesia, Alumnus Teknik Informatika ITB dan sekarang menjadi dosen di UMN (Universitas Multimedia Nusantara) Jakarta. Sedang Ir. Dwi Heriyanto MT adalah General Manager Kandatel Solo, alumnus S1 Teknik Industri dan S2 Manajemen Telekomunikasi Universitas Indonesia.


Wawancara Bianglala dengan para pakar ini dilakukan dengan memanfaatkan TI pula yakni melalui e-mail (Surat Elektronik) berkenaan dengan waktu, kesibukan, mobilitas dan tempat tinggal dari para nara sumber ini.



Pentingnya TI bagi pendidikan

Pertama, mengenai pentingnya TI khususnya bagi dunia pendidikan. Menurut Sutanto, TI sudah mulai nampak dipakai dalam dunia pendidikan di tingkat dasar, menengah maupun pendidikan tinggi, meski secara prosentase penggunaannya masih sangat kecil. Justiani berpendapat bahwa di dunia sedang terjadi revolusi senyap (silence revolution). Dengan kehadiran berbagai temuan dan terobosan yang dibuat oleh teknologi informasi maka perubahan besar-besaran sedang terjadi. Revolusi teknologi informasi menjanjikan struktur interaksi kemanusiaan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih efisien. Sedangkan Dwi H. mengatakan,  TI khususnya pada dunia pendidikan adalah suatu keharusan pada era saat ini. Pendidikan tanpa TI ibarat masakan tanpa garam, terasa hambar, membosankan dan kurang menarik.


Kalau dulu kita mengajar menggunakan kapur tulis, setelah itu berubah dengan white board, kemudian berubah lagi dengan menggunakan OHP (Overhead projector), dan sekarang sudah menggunakan INFOCUS, bahkan pendidikan bisa dilakukan dengan e-Learning (Tele education), dengan TI segalanya dimungkinkan.  Begitu pula untuk para pendidik dan siswa bisa mencari informasi dengan mengambil di www.e-dukasi.net,  www.wikipedia atau ke google.com.


Kedua, seberapa jauh kesiapan dunia pendidikan Indonesia memanfaatkan TI  demi membantu pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah?


Bagi Sutanto, TI bukan berkonotasi sesuatu yang canggih dan mahal. Pendataan siswa dan perkembangan akademi, perkembangan psikologi sampai data alumni teregister dengan baik adalah sebuah contoh penerapan TI di sekolah. Dan ini tidak membutuhkan modal yang cukup besar kecuali modal untuk mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Mungkin data tersebut bisa dilakukan dan disimpan secara manual, sehingga sulit untuk menjadi data yang bisa diolah menjadi pendukung pengambilan keputusan.


Sedang Justiani berpendapat, sudah banyak yang berinisitaif untuk membangun bahan ajar online dari multimedia baik pihak birokrat pemerintah dalam bentuk proyek maupun swasta dan individu yang ingin maju. Namun kebijakan belum mendukung secara total, masih parsial, karena belum paham secara mendalam dan komprehensif perubahan apa yang bisa ditimbulkan.


Menurut  Dwi Heriyanto,  berhubungan visi dari Mendiknas, sudah menerapkan pendidikan yang berbasis TI. Sebagai contoh Depdiknas sudah mengurangi belanja buku pelajaran dan yang diberikan adalah biaya akses internet.  Diresmikannya e-library atau e-book, Penerimaan Siswa Baru (PSB) Online terbukti bahwa dengan TI semuanya bisa dilaksanakan secara transparan, bisa diakses secara publik. Sebagai contoh akses internet Speedy di Kota Solo dan sekitarnya saat ini sudah mencapai lebih dari 80%, ini merupakan bukti nyata bahwa TI sudah merupakan keharusan.


Ketiga, lalu bagaimana cara mensosialisasikan kepada guru, siswa dan orang tua yang masih awam akan TI ?

Dalam hal ini Justiani berpendapat, paling mudah dengan contoh dan perangkat yang tepat baik software dan hardware-nya, sebagaimana HP dan SMS atau ATM di Bank.  Hal ini tidak pernah diajarkan kepada rakyat tapi rakyat bisa. Idenya sama, dibuat perangkat yang mudah secara total. Pasti bisa karena rakyat cerdas. Yang bodoh itu pembuat kebijakan yang justru sok pinter. Pokoknya kalau rakyat sampai tidak bisa itu yang salah yang ngajari. Karena rakyat kalau tahu sesuatu itu memberi manfaat pasti dikejar.


Dwi Heriyanto mengilustrasikan, Telkom memiliki program IG2S (Internet Goes to School) edukasi internet untuk guru, siswa dan juga termasuk orang tua jika mereka ingin belajar internet. Bahkan Telkom bekerjasama dengan Warnet memberikan edukasi satu minggu sekali untuk edukasi internet kepada masyarakat sekitar, dan Telkom memberikan Free abonemen kepada warnet 1 bulan. Cara lainnya adalah dengan melakukan kerjasama dengan institusi pendidikan seperti UNS, mengundang para guru untuk mengikuti sosialisasi tentang internet dan manfaatnya bagi dunia pendidikan, menyediakan free hotspot di area publik.


Sutanto mengatakan sosialisasi TI  adalah kerja budaya, jadi TI harus bersinergi dengan budaya lokal. Artinya TI harus menempel saja atau melengkapi saja dari kebiasaan yang sudah ada. Misal jangan mengubah urutan menilai atau mengoreksi. Tapi ikuti alurnya dan baru kemudian tambahkan TI masuk dalam alur penilaian, juga perlu dimunculkan  value added dari adanya tambahan TI dalam alur kegiatan para guru tadi. Intinya jangan mengubah apa yang sudah berjalan di sekolah.Taruhlah mengubah itu harus dilakukan secara pelan-pelan. Kecuali kalau TI diterapkan di sekolah yang baru dengan SDM yang ready to use tidak ada masalah.


Keempat, sarana pendukung yang diperlukan untuk mempercepat kemampuan warga sekolah untuk menerima TI sebagai bagian dalam kehidupannya?


Dalam kaitan ini Sutanto berharap mulai cara berpikirnya yang disiapkan. Bahwa Kepala sekolah hendaknya sadar betul dengan visinya bahwa tanpa TI tidak akan mendapatkan sebuah hasil yang optimal. Dari sini akan bergerak untuk kelengkapan piranti IC : PC. Koneksi internet mungkin sudah tersedia banyak yang murah seperti Speedy.


Justiani melihat, kalau software dan bahan ajar sudah banyak apalagi di seluruh dunia semakin banyak universitas virtual. Juga bahan ajar tiap hari dunia memproduksi ratusan bahan melalui internet, jadi tinggal kita cari saja apa yang kita perlukan. Istilah information glut atau banjir informasi dan lain-lain harus disiasati dengan "wisdom" bukan sekedar pembelajaran tetapi pendidikan yang memuat kearifan kita sebagai bangsa sehingga tidak salah arah. Namun soal infrastruktur jaringan dan telekomunikasi kita masih dimonopoli dan dijadikan sumber penghasilan jadi mahal. Harga pulsa di Indonesia termahal nomor dua di dunia, jadi belum mengikuti komitmen MDG (Milenium Development Goal) yang sudah sepakat membuat multimedia dan telekemunikasi sebagai infrastruktur rakyat jadi kalau bisa gratis atau murah terjangkau setiap orang seharusnya.


Sedang Dwi Heriyanto berharap perlu dukungan sarana pendidikan yang diperlukan untuk mempercepat kemampuan dalam memasukkan pelajaran komputer dan internet dalam kurikulum sekolah sejak dini. Membuka akses Hotspot di sekolah agar mereka bisa akses, menyediakan lab komputer yang bisa diakses oleh murid, guru-guru dan karyawan.


Dan yang kelima,  langkah optimalisasi TI yang harus dilaksanakan sekolah dengan metode bagaimana ?

Menurut Sutanto perlu mengupayakan sebuah sistem yang selalu bisa dikontrol oleh semua stakeholders, yang kedua adalah Win-win solution artinya ada take and give. Orang Indonesia paling malas update data. Karena mungkin tidak ada upah tersendiri untuk itu. Nah maka perlu dibuatkan sebuah metode atau skema : setiap data yang diakses atau diambil maka akan dikenakan biaya sesuai kesepakatan. Tentunya akses kemudahan kita sudah sediakan buat stakeholders. Semisal mengambil nilai melalui SMS, bahkan orang tua atau siswa yang melihat nilai  melalui HP akan dipotong pulsanya dan pulsa tersebut dirupiahkan. Hasil rupiah tersebut dapat dibagi dengan pihak sekolah dan provider.


Dwi Heriyanto mengatakan,  jadikan TI itu sebagai bagian dari Value added Services sekolah, sistem administrasi sekolah dilakukan dengan TI, dari mulai absensi hingga melihat nilai ujian bisa diakses dari internet dan sms. Jadikan sekolah DIGITAL yang bertarap International. Metodenya adalah melalui Commitment Top Down yaitu dari Kepala sekolah dan guru-guru dibantu oleh semua muridnya, kedua adalah dengan konsisten melaksanakan pengembangan sekolah berbasis TI, dan terakhir adalah Continous Improvement untuk perbaikan berikutnya.


Bagi Justiani langkah yang harus dilakukan guna optimalisasi TI. Paling mudah ya dengan diterapkan sehari-hari sebagai bagian dari "gaya hidup bersekolah" bukan sebagai beban atau tugas-tugas yang membosankan. Yah seperti sms gitulah. Harus dibuat program-program kampanye yang membuat mudah kehidupan dengan cara baru tersebut.


Oleh karena itu secepatnya jajaran sekolah YPL memperdayakan dan mengoptimalkan TI. Sebab TI tidak sulit dan mahal  bila sudah mendarah daging di hati kita semua sebagai bagian dari budaya atau gaya  hidup warga sekolah. (FX Triyas Hadi Prihantoro)





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.83.93.85 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2019  http://www.pangudiluhur.org/