YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Jumat, 20 Oktober 2017  - 3 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


24.08.2011 13:59:58 2890x dibaca.
ARTIKEL
Guru harus kembali kepada Jati-Diri, tidak Sekedar Rutinitas

Mutu sekolah merupakan tanggung jawab guru, siswa dan orang tua. Kolaborasi di antara mereka yang intensif, saling memberikan support, dukungan, motivasi penuh semangat, adanya kepercayaan akan menciptakan kualitas sekolah. Kredibilitas sekolah pun terjamin.

Meningkatkan mutu sekolah berbasis kelas, bukan hal baru. Pada dasarnya kegiatan belajar mengajar (KBM) selalu berpusat kepada siswa dalam kelas. Maka begitu penting peran guru dalam mengoptimalkan kelas yang merupakan bagian integral dari sekolah secara keseluruhan.

Pandangan di atas merupakan hal-hal pokok yang mengemuka dari  sharing bersama Drs Ag Unggul Sudarmo M.Pd, kepada  Bianglala. Konsep mutu sekolah sendiri mungkin masih debatable, karena mutu sekolah menurut pandangan masyarakat bisa berbeda dengan pandangan sekolah secara akademis.

Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Surakarta sekaligus sebagai Ketua Komisi Pendidikan (Komdik)  Vikep Surakarta Unggul Sudarmo mengatakan, ada beberapa indikator dalam menentukan mutu sekolah yaitu (1) Mutu dipandang dari Proses  : suatu sekolah dinilai bermutu bila proses pembelajarannya bertujuan memberikan pencerahan kepada siswa.  Sekolah disebut bermutu bila sekolah tersebut dapat memberikan penyadaran bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan bukan sebagai kewajiban, bahwa pencapaian hasil belajar tidak dipandang dari angka-angka statistik, tetapi dilihat dari bagaimana siswa berusaha mencapai hasil. Proses pembelajaran di kelas tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan tetapi suatu proses tranformasi kepribadian siswa. Saat ini banyak guru yang mengajar di kelas terasa kering tidak bermakna dan tidak mendidik tetapi sekedar mengajar. Proses pembiasaan, proses refleksi diri dan motivasi harus selalu disisipkan oleh guru pada saat mengajar.

(2) Mutu dipandang dari output : output suatu sekolah tidak boleh hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi harus dibandingkan dengan kondisi awal. Jika nilai UN (Ujian Nasional) siswa sebagai tolok ukur maka tidak boleh sekedar sekolah dengan rata-rata UN 7,0 lebih baik dari yang rata-ratanya 6,0 tetapi harus dibandingkan dengan kondisi awal. Sekolah dengan input 4,0 dengan output 6,0 lebih bermutu daripada sekolah dengan output 7,0 dengan input 7,0.  Selain itu sikap siswa dari suatu sekolah ditentukan pula oleh proses pembiasaan yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas (sekolah); sekolah yang guru-gurunya disiplin akan mempunyai kecenderungan menghasilkan siswa yang mempunyai sikap disiplin dan teratur. Ini asumsi lho.

(3) Mutu dipandang dari outcame: outcame sekolah adalah budaya bangsa, oleh karena itu bangsa yang pendidikannya baik akan menghasilkan masyarakat yang baik. Budaya korupsi di negara kita mungkin disebabkan adanya kebiasaan manipulatif yang dilakukan oleh para guru selama orde baru dengan sistem pendidikan yang seolah-olah selalu baik dan anak sekolah selalu naik kelas dan selalu lulus walaupun para siswa sebenarnya sudah berpikir tidak akan naik atau lulus.

Berikut ini petikan wawancara Bianglala dengan Drs Ag Unggul Sudarmo M.Pd.

Dengan demikian upaya apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu sekolah berbasis kelas?

Yang (1) memberikan kesadaran kepada guru bahwa tugas mereka sungguh-sungguh menentukan masa depan bangsa. (2) Memberdayakan siswa untuk selalu kritis terhadap hak dan kewajibannya.(3) Melakukan monitoring dan supervisi kelas (tapi ini pekerjaaan yang membutuhkan keahlian, hanya sedikit Kepala Sekolah ahli dalam hal ini). (4) Mendorong guru bekerja dengan benar walaupun baru sedikit hal yang bisa dikerjakan. Setelah melakukan hal benar didorong untuk ke arah yang baik, sehingga mengerjakan hal kecil dengan benar dan baik. Sedikit demi sedikit dapat mengubah kebiasaan guru di depan kelas yang sekedar menjalankan tugas, tapi tidak tahu misi utamanya.

Ada anggapan bahwa peningkatan mutu sekolah dapat ditentukan dari  cara guru mengajar  di kelas. Bagaimana pandangan Anda tentang hal ini ?

Prinsipnya dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) cara mengajar guru masih relevan dan berperan. Kurikulum boleh berganti-ganti (4-5 kali) namun  sentral proses belajar-mengajar (PBM) tingkat keberhasilannya masih tetap pada guru. Karena pergantian kurikulum tidak mambawa dampak perubahan secara signifikan.

Metode pembelajaran seperti apa yang digunakan untuk membuat keberhasilan siswa dalam studinya?

Caranya adalah merubah metode pembelajaran secara periode yakni dengan memberikan konsep-konsep baru dalam in house training, baik dalam upaya mengajak siswa untuk belajar lebih aktif maupun mengupayakan agar guru mempersiapkan PBM  dengan benar. Seperti dalam pembuatan Rencana Proses Pembelajaran (RPP), jangan hanya sekedar formalitas belaka di mana ada anggapan bila sudah ditanda tangani Kepala Sekolah sudah beres. Harusnya  tergantung pada konteks mata pelajaran dan siswa diajak untuk mengetahui ilmunya.

Bagaimana cara mengetahui secara menyeluruh tentang kesiapan guru dalam mengajar di kelas? Apakah benar benar dapat meningkatkan mutu sekolah yang berbasis kelas?

Pembelajaran berbasis kelas itu sendiri perlu mendapat perhatian dan perlu adanya kedekatan guru terhadap siswa. Kedekatan guru terhadap siswanya dapat meningkatkan belajar secara lebih teratur, terarah dengan kondisi menyenangkan. Tentu tetap berlandaskan pada kedisplinan dan konsistensi terhadap proses itu sendiri.

Perlu adanya kesepakatan dan kesepahaman bersama bahwa kelas merupakan bagian dari sekolah yang secara langsung mengolah siswanya.  Oleh karena itu bila dalam PBM di kelas berlangsung dengan tertib, disiplin, nyaman, bertanggung jawab, kreatif, inovatif, demokratis secara menyeluruh juga merupakan keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu. Maka demi tetap menjaga konsistensi dari PBM berbasis kelas setiap pekerjaan guru dan siswa hendaknya selalu dikontrol (dievaluasi). Guru sendiri selalu disupervisi dalam setiap kesempatan agar tidak ke luar, menyimpang dari kurikulum, dan tetap mampu mengotimalkan kelas itu sendiri.

Ada yang beranggapan bahwa keberhasilan studi siswa banyak ditentukan dari Bimbingan Belajar atau Les. Bagaimana pendapat Anda ?

Itu omong kosong  bila keberhasilan siswa dikarenakan les atau peran Bimbingan Belajar (Bimbel).  Seperti halnya saat Tim Bimbel hendak masuk ke sekolah (SMAN 4 Surakarta - red), selalu saya katakan “apakah akan merendahkan guru saja dengan menggunakan metode praktis ?”

Persoalannya, apakah seorang siswa lulus SMP dan  lulus SMA hanya bisa mengandalkan bimbel tanpa peran guru dalam PBM di sekolah ? Bimbel pada dasarnya hanya memoles saja, karena pembentukan kepribadian siswa berlangsung di sekolah secara intens dalam pembelajaran berbasis kelas. Keberhasilan siswa tetap sangat tergantung dalam KBM di kelas dalam lingkungan sekolah formal.

Pertanyaan terakhir, sudahkah guru yang mengajar di sekolah benar-benar berbasis  kelas ?

PBM berbasis kelas tetap tergantung kepada guru. Guru harus punya komitmen bekerja sebagai pendidik, pendamping dan pengajar. Guru harus kembali kepada jati-diri, tidak hanya sekedar rutinitas. Maka, mengoptimalkan person siswa merupakan bentuk dari peningkatan mutu sekolah berbasis kelas. (han)

 





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 23.20.120.3 : 5 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/