YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Senin, 25 September 2017  - 3 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


09.08.2010 08:26:48 2148x dibaca.
ARTIKEL
HIDUP DALAM CINTA SESAMA DAN SALEH

Oleh: Br Krismanto, FIC
         Tinggal di Postulat FIC Muntilan

Suatu sore, Pak Bernard dan istrinya Margaretha duduk di ruang tamu, sembari menikmati masa pensiun. Mereka sering kali menatap foto anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Foto keluarga yang terpampang pada dinding ruang tamu rumahnya merupakan salah satu hiburan tersendiri. Sejenak terbayang pengalaman masa lalu ketika mereka merawat anak-anaknya yang masih kecil. Anton, anak pertama mereka telah menjadi seorang dokter. Theresia anak kedua menjadi seorang biarawati, dan Fransiskus menjadi seorang  biarawan.


Pak Bernard dan istrinya sungguh bahagia karena mereka diperkenankan Tuhan untuk merawat serta mendampingi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Terlebih anak-anak mereka sungguh memiliki hati tulus melayani sesama dan selalu mengandalkan Tuhan dalam menjalankan tugasnya. Sebagai anak katolik, ketiga anak Pak Bernardus selalu taat beribadah ke Gereja. Banyak orang tertarik dengan model pelayanan yang diberikan oleh ketiga anak Pak Bernardus.

 

Berakar dari keluarga

Kisah di atas mengingatkanku akan orang tua Bruder Bernardus Hoecken yang aku pelajari melalui Sejarah Kongregasi FIC. Dikisahkan bahwa ayah dan ibu Br Bernardus Hoecken memiliki lima anak, tiga putra dan dua putri. Dua kakak lelaki Br Bernardus menjadi imam Yesuit. Kemudian kedua kakak perempuan menjadi suster Carmelit. Sementara Bernardus memutuskan untuk menjadi seorang bruder.


Bagiku, membaca kisah keluarga Bruder Bernardus adalah sesuatu yang aneh. Gila! Bagaimana tidak gila, masak memiliki lima anak tidak ada satupun yang berkeluarga. Bagaimana kelangsungan hidup keluarga ini ? Apa yang menjadi pandangan umum bahwa orang harus berkeluarga dan memiliki anak tidak berlaku bagi keluarga ini. Mereka sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Bagi mereka setiap pilihan hidup membawa konsekuensi sendiri bagi orang yang memilihnya. Kalau kelima anak dari orang tua Bernardus tidak memiliki anak, mereka jelas-jelas tahu konsekuensi yang ada. Yang menjadi pertanyaan bagi kita saat ini : apa yang sebenarnya mereka atau kita cari dalam hidup di dunia ini?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah. Saya sendiri melihat bahwa mereka sungguh-sungguh mau memberikan hidupnya bagi Allah dan sesama. Hal ini tampak nyata bagaimana kedua kakaknya yang menjadi imam berkarya di tanah misi. Dari sini jelas bahwa kedua kakaknya berjuang keras untuk memberikan diri mereka kepada Allah dan sesama. Saya sendiri merasa yakin bahwa kedua kakak Bruder Bernardus memilih cara ini karena mereka telah menemukan mutiara yang mulia. Yesuslah yang menjadi mutiara bagi mereka. Mereka yakin, melalui Yesus mereka akan diselamatkan. Baginya Yesus adalah pribadi yang saleh, agung dan sempurna.


Sebagai pribadi yang saleh dan selalu mengarahkan hidupNya kepada Allah BapaNya, Yeus memiliki tugas untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Sebagai Sang Utusan Allah, Yesus sungguh mengarahkan hidup dan karyaNya secara radikal kepada Allah. Kesalehan Yesus dari segi kemanusiaanNya tidak lepas dari keberadaan Maria dan Yusuf sebagai pribadi yang dipercaya Allah Bapa untuk membentuk karakter kepribadian Yesus Sang Anak Allah yang menjelma menjadi Manusia.


Dari uraian tersebut, menjadi jelas dan nyata bahwa kemampuan sesorang untuk mencintai sesama dan hidup saleh tidak lepas dari keluarga. Bagaimanapun, orang tua Br Bernardus memiliki peran yang besar membentuk kepribadian putra dan putrinya. Kalau Br Bernardus menuliskan Cinta Sesama dan Sebagai Sebuah Keutamaan, jelas bahwa mereka dididik oleh orang tuanya untuk selalu mencintai sesama. Hal ini tidak diragukan lagi. Keempat kakak Bruder Bernardus jelas-jelas memberikan diri seutuhnya untuk mencintai sesama. Sesama bukan satu bangsa tetapi sesama manusia di manapun mereka berada.


Semua yang dilayani merupakan pengejawantahan diri Yesus yang menderita. Yesus pernah berkata: “Ketika Aku haus, engkau memberi Aku minum, ketika Aku lapar, engkau memberi Aku makan, ketika Aku di penjara engkau melawat Aku” (Mat 19:36-37). Mencintai sesama yang dilakukan dengan penuh ketulusan ternyata juga berarti melakukan untuk Yesus sendiri.


Bruder Bernardus juga melakukan hal yang sama. Baginya, mencintai sesama secara konkret yakni mencinta para bruder yang dia layani. Bagi Bernarus mencintai sesama adalah mencintai sesama brudernya dengan tulus hati. Cinta yang seperti sungguh diusahakan oleh Bruder Bernardus. Hal ini dimaksudkan agar sesama brudernya sungguh-sungguh mengalami keselamatan. Bagaimana mungkin seorang bruder mampu menyelamatkan orang lain kalau dirinya sendiri tidak selamat? Menjadi penting di sini adalah bahwa keselamatan itu perlu diusahakan oleh masing-masing pribadi. Jangan sampai kita berbicara soal keselamatan sementara kita tidak selamat? Jika demikian sungguh tragis bagi pewarta keselamataan yang tidak selamat.

 

Selain cinta sesama, kesalehan juga menjadi sesuatu yang penting bagi Bruder Bernardus. Hidup saleh bagi Bruder Bernardus menjadi sesuatu yang mesti diperjuangkan. Tidak mungkin kesalehan itu datang langsung dari langit. Kesalehan perlu diusahakan dari hari kehari.


Orang akan mampu mencintai sesama secara tulus, benar dan berdaya-guna kalau dia menghidupi sikap yang saleh yang berasal dari Allah. Mengapa? Karena kesalehan mesti dibangun oleh diri sendiri dengan cara: selalu mendekatkan diri pada Tuhan, baik melalui doa pribadi, bersama, meditasi serta sering menimba kesalehan Yesus melalui Kitab Suci. Orang yang dekat dengan Tuhan dan yang selalu mengarahkan hidup kepada-Nya diyakini mampu mencintai sesama dengan baik.


Otonomi manusia

Tuhan Allah mencipta kita dengan kehendak bebasnya. Sungguh Manusia diberi kebebasan untuk memilih hidupnya. Manusia sungguh diberi otonomi yang luas untuk mengatur hidupnya. manusia dapat menjadi jahat kalau memang dia menghendaki dan memilih hidup sebagai orang jahat. Kalau manusia memilih menjadi jahat berarti dia tidak mau mendengarkan suara Tuhan yang selalu hadir lewat Roh Kudus yang sudah dicurahkan kepadanya dan yang sudah bersemayam di lubuk hatinya yang terdalam.


Demikian juga orang mampu hidup baik, mencintai sesama seperti diri sendiri dan membangun hidup saleh di dalam dirinya kalau dia sendiri yang memilihnya dengan penuh kebebasan dan tanggungjawabnya. Inilah hebatnya Allah. Dia tidak mengintervensi hidup manusia. Dia, Allah yang baik dan selalu mengajak manusia ciptaanNya agar mengikuti gerakan Roh Kudus yang telah disemayamkan dalam hatinya dan terpatri kuat agar selalu mengingatkan manusia untuk selalu berbuat baik dan berkenan kepada Allah.

 

Sebuah proses

Bagi kita, baik sebagai guru, karyawan, para siswa diberi waktu yang sama untuk mengembangkan keutamaan mencintai sesama dan hidup saleh yang diwariskan oleh Bruder Bernardus Hoecken. Semua membutuhkan proses yang tidak sebentar. Untuk mengikuti proses menjadi orang yang baik,  mencintai sesama secara tulus dan menjadi orang yang saleh, orang yang selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan tidaklah mudah. Sekali lagi semua membutuhkan proses. Yakinlah kalau proses berjalan dengan baik, kita akan menjadi orang saleh sehingga mampu mencintai sesama dengan baik.


Siapapun kita hendaknya berlomba untuk bisa mencintai sesama dan hidup dalam kesalehan. Kalau kita mendapatkan itu, kita perlu memeliharanya. Hendaknya kita mantap dalam pilihan hidup kita yakni hidup dalam cinta sesama dan dalam kesalehan. Kita yakin kalau benih ini yang selalu kita taburkan, dunia kita akan manjadi aman dan damai. Kita perlu bergandengan tangan menyebarkan virus cinta sesama dan hidup saleh. Dengan demikian kita menjadi semakin layak dan dipercaya oleh Tuhan menjadi pewarta Kabar Suka Cita bagi banyak orang dan mampu menjadi garam dan terang bagi orang-orang di sekitar kita.

    






KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.144.21.195 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/