YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Senin, 25 September 2017  - 2 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


01.12.2009 10:01:03 4135x dibaca.
ARTIKEL
LEMBAGA PENDIDIKAN KATOLIK MASIHKAH MENJADI PILIHAN MASYARAKAT ?

 Oleh: Br. Dr. G. Bambang Nugroho, FIC

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan dunia yang semakin maju, masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dihadapkan pada berbagai pilihan, termasuk tatkala akan menentukan pilihan lembaga pendidikan bagi putra-putrinya. Bagi mereka yang berpeluang memilih akan memilih lembaga pendidikan yang ideal. Lembaga pendidikan yang dipandang ideal itu adalah lembaga pendidikan yang mampu mengembangkan berbagai potensi siswa secara utuh yaitu potensi mental spiritual, intelektual yang biasanya diukur dari perolehan nilai Ujian Nasional, potensi sosial dan karakter kepribadiannya serta  ketrampilan anak didiknya. Lembaga pendidikan yang berhasil mengembangkan berbagai potensi itu biasanya diperebutkan masyarakat, sehingga biayanya pun menjadi relatif mahal, dengan mengikuti hukum pasar, yakni permintaan tinggi maka harga dinaikkan. Namun, di sisi lain, oleh karena mahalnya itu maka tidak semua orang memiliki peluang untuk dapat mengaksesnya.

 
Kenyataannya tuntutan masyarakat seperti itu direspons oleh banyak pihak, tidak terkecuali oleh lembaga pendidikan keagamaan, termasuk lembaga–lembaga pendidikan Katolik. Muncullah kemudian label-label lembaga pendidikan Katolik yang dipandang lebih bermutu, sebagai contoh sekolah Ursulin, sekolah Kanisius, sekolah Laurentia, sekolah Pangudi Luhur Domenico Savio, dsb. Penyebutan seperti itu diharapkan memberi kesan bahwa lembaga pendidikan tersebut bermutu atau berkualitas.


Tetapi apa sesungguhnya yang disebut sebagai pendidikan berkualitas itu, seringkali juga masih kabur. Persoalannya adalah bagaimana lembaga pendidikan Katolik menjaga eksistensinya, sehingga masih mempunyai daya tarik, menjadi pilihan masyarakat tanpa kehilangan visi dan panggilannya untuk merasul dalam pendidikan?


Berdasarkan berbagai macam tulisan yang pernah penulis baca maupun masukan yang pernah penulis dengar dalam berbagai seminar, kenyataannya jumlah siswa di beberapa lembaga pendidikan Katolik di berbagai daerah mengalami penurunan secara tajam setiap tahun. Tentu ada persoalan yang perlu kita analisis bersama. Persoalan tersebut menyangkut aspek pelayanan pendidikan, situasi social-ekonomi, politik dan keagamaan atau karena Sekolah Katolik tidak mempunyai daya tarik, daya saing dan daya tahan lagi,  karena kehilangan ROH nya sebagai sekolah yang berlandaskan spiritualitas Kristiani. Sekolah Katolik akan mengalami krisis  artinya, tetap dikenal luas, tetapi orang yang mengenalnya semakin menjauh dan tidak lagi menjadi pilihan atau ditinggalkan, jika sekolah Katolik melupakan jiwanya atau ROH nya sebagai sekolah Kristiani.


Menurut hemat saya, dikatakan lembaga pendidikan Katolik itu berkualitas  jika lembaga tersebut dapat memberikan pelayanan kepada peserta didik dengan hati yang tulus, sehingga para lulusannya dapat berkembang kemanusiaannya secara utuh,secara integral artinya  siswa yang didampingi mengalami perkembangan baik fisik, mental, akademis, sosial-emosional, spiritual secara harmonis yang didukung dengan “budaya/kultur” sikap tanggap terhadap pelestarian dan keutuhan ciptaan. Para siswa dalam pendidikannya dibangun kultur untuk bersyukur, berprestasi, berkualitas, mampu bekerjasama, berproduktif, berbelarasa, ketangguhan, kasih persaudaraan dan mempunyai integritas yang tinggi.


Sistem pendidikan yang dikembangkan tidak hanya mengukur dari segi kecerdasan intelektual saja, namun perlu diperhatikan pembinaan karakter dan kecerdasan emosional yang terinternalisasikan pada diri siswa secara integral. Untuk mewujudkannya memerlukan energi lebih, niat yang ikhlas, integritas serta komitmen semua komponen sekolah disertai dengan  usaha sungguh-sungguh, dan  pengorbanan yang tinggi.


Untuk itu, guru di lembaga pendidikan Katolik, tetap memegang kunci terhadap maju mundurnya Sekolah Katolik. Peran guru di Sekolah Katolik adalah sebagai agen pembaharuan dan pelaku perubahan serta pendidik karakter bagi para siswa. Di samping  sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai positif dalam kehidupan, sebagai figur dan teladan, mengajarkan keluhuran, keutamaan dan kebaikan. Maka dari itu guru hendaknya bermutu dalam kepribadian dan kerohanian yang mendukung tugasnya sebagai orang yang bertanggungjawab atas tercapainya hasil belajar siswa.


Untuk membangun kembali Sekolah Katolik sebagai pilihan masyarakat, hendaknya Sekolah Katolik melakukan refleksi untuk reorientasi, revitalisasi ke visi – idealismenya sebagai sekolah Kristiani. Falsafah pendidikan Katolik adalah humanis – demokratis, bermartabat, yang diformulasikan dalam semangat memanusiawikan manusia secara utuh. Maka pola pembelajaran pun hendaknya mengintegrasikan pemahaman masalah sekitar kehidupan siswa serta-merta mengembangkan nilai-niliai kemanusiaan secara terpadu. Nilai-nilai tersebut muncul dari kesadaran siswa melalui refleksi, yang akhirnya diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Sekolah Katolik dalam proses pendidikannya, hendaknya memberikan suasana pendidikan di mana setiap siswa diterima, dihargai menurut keunikannya, diberi peluang dan sarana untuk mengembangkan dirinya, serta diberi sarana untuk menyumbangkan bakat, telenta yang dimilikinya.


Lembaga Pendidikan Katolik hendaknya memiliki sifat Integratif, dengan tujuan mewujudkan integrasi antara berbagai macam pengembangan, baik pengembangan  spiritual,  pengembangan intelektual, pengembangan sosial, dan kecakapan lainnya.  Bagaimana ciri khas lembaga pendidikan Katolik yang  integratif itu, hal itu bukanlah sesederhana yang dibayangkan sementara orang. Jika yang dimaksudkan integrasi itu adalah pengembangan keterpaduan secara nyata antara nilai-nilai dengan ilmu pengetahuan pada umumnya, maka yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana suasana pendidikan, kultur akademik, kurikulum, sarana dan prasarana dan yang tidak kalah pentingnya adalah profil guru yang harus dipenuhi untuk mewujudkan konsep pendidikan integratif seperti yang dimaksudkan itu. Integrasi, terpadu atau apapun sebutannya tidak hanya bersifat formal, yang hanya mencakup persoalan-persoalan sepele dan artifisial, tetapi integrasi dalam kualitas berbagai komponen sistem penyelenggaraan pendidikan Katolik yang semuanya itu berujung pada terwujudnya kepribadian siswa yang integratif, yang sekaligus menunjukkan adanya tingkat keunggulan tertentu dibandingkan dengan yang lain. Institusi pendidikannya haruslah lebih unggul, demikian juga keunggulan itu juga tampak pada kualitas guru, sistem akademik, sosio-kultural sekolah, manajemen, sarana dan fasilitas, termasuk sumber-sumber belajar lainnya, serta keunggulan yang menyangkut profil siswa atau lulusannya.

                                                                    
Lembaga pendidikan Katolik perlu melakukan penataan ulang yang disertai dengan refleksi yang mendalam baik yang menyangkut segi spiritualitas konsepsi, managemen maupuin dalam tataran praktisnya. Penataan tersebut menyangkut penegasan visi Guru Katolik yang dipanggil dalam tugas perutusan Gereja, yang hendaknya ditumbuhkan sebagai seorang rasuli pendidikan, menumbuhkan sekolah sebagai komunitas belajar professional, membudayakan sifat reflektif, menumbuhkan semangat kejujuran akademis dan menumbuhkan kultur demikratis di sekolah Katolik, di samping dalam pembelajarannya mempraktekkan pembelajaran kolaboratif yang saling berbagi satu sama lain.


Semoga daya upaya dalam mewujudkan cita-cita ini, dapat menjadikan lembaga pendidikan Katolik kembali dapat hadir mempesona bagi yang mengharapkan uluran pelayanan yang penuh jiwa kasih dan ketulusan hati.  


SEMARANG, OKTOBER 2009





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.144.21.195 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/