YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Senin, 25 September 2017  - 2 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


11.12.2009 10:02:38 1646x dibaca.
ARTIKEL
MENDIDIK : BELAJAR KEPADA MARIA

Keluarga Besar Yayasan Pangudi Luhur yang berbahagia,


Perkenankanlah saya bersama Pengurus YPL Pusat mengucapkan profisiat dan selamat merayakan ulang tahun. Kita bersyukur kepada Tuhan yang masih memberikan berkat dan kesempatan kepada kita untuk melayani masyarakat, khususnya orang-orang muda.


Saya menyambut baik berbagai usaha dan kegiatan dari setiap Cabang atau Ranting YPL yang sungguh bermakna dan merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan yang mendalam. Berbagai kegiatan nyata seperti Misa Kudus, Novena, seminar pendidikan, bakti sosial, gelar seni budaya, lomba-lomba bagi guru-guru dan murid-murid dan berbagai kegiatan lainnya adalah wujud nyata dari rasa syukur tersebut.


Pada tahun 2009, tepatnya pada tanggal 6 Oktober, Yayasan Pangudi Luhur merayakan usia 55 tahun dalam melaksanakan tugas pengutusan di dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Usia 55 tahun bagi perjalanan hidup seseorang bukanlah usia yang pendek. Orang mengatakan sudah lebih dari ‘setengah umur.’ Bagi guru/karyawan di YPL umur tersebut umur di ambang pintu untuk memasuki masa pensiun.

 
Di samping itu pada tanggal 8 Desember kita juga merayakan pesta Pelindung Yayasan yaitu Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda.


Kita meyakini bahwa Maria adalah pribadi yang sangat kaya. Kita berbahagia menempatkan hidup kita di bawah perlindungannya yang istimewa.


Kiranya baik pada kesempatan ulang tahun ini kita berhenti sejenak dan merunut kembali perjalanan kita sebagai Keluarga Besar Pangudi Luhur seturut teladan Santa Perawan Maria. Sesudah permenungan, kita berharap dapat disegarkan kembali dalam melaksanakan tugas pengutusan kita.

 
1. Maria Pelindung

Kehidupan Maria sepenuhnya dibaktikan bagi pelayanan terhadap putranya. Ia memandang dirinya sebagai hamba yang hina dina, yang mengalami bahwa Tuhan mengerjakan karya agung dalam dirinya. Di dalam Kidung Magnificatnya, kita merasakan perhatian utamanya terhadap yang miskin dan yang berkekurangan, dan kerinduannya terhadap keadilan dan kebenaran. Dia adalah Ibu semua orang beriman. Melalui semua keraguan dan ketidakpastiannya, ia tetap setia terhadap putranya, bahkan sampai di Kalvari. Oleh karena itu, semua bangsa menyebut dia berbahagia. Ia juga memberikan inspirasi kepada kita. Kita ingin mengikuti teladannya, dan kita memohon pertolongannya dalam doa-doa kita.

 

2. Bunda Maria Berjumpa Bapa

Di dalam kisah Pemberitahuan tentang Kelahiran Yesus (Lukas 1:26-38) terjadi percakapan yang diprakarsai oleh Allah dan dilangsungkannya dengan pengantaraan malaikat Gabriel. Maria tidak diberi kesempatan untuk menyiapkan diri. Tiba-tiba malaikat berdiri di depannya. Ia datang tanpa diundang. Dengan tidak tersangka-sangka Maria berjumpa dengan Allah dalam hidupnya. Dan ”Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.”( Lukas 1:29). Orang yang dikunjungi Allah, ia menghadapi sesuatu yang baru, yang tidak dalam kuasanya, pengalaman yang penuh tanda tanya. Maria merenungkannya. Perkataan malaikat dibiarkannya masuk ke dalam hatinya.

Sikap seperti ini sudah tidak begitu biasa pada zaman yang serba instan dan digital ini. Kita sibuk dengan berbagai macam kegiatan dan rencana dan tidak mempunyai waktu lagi untuk membuka hati dan mendengarkan Allah. Kita sibuk untuk menyusun rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang, tetapi jarang atau tidak pernah kita menyusun rencana untuk ’jangka kekal.’ Kita hanya melihat potongan-potongan jalan, tetapi kita tidak melihat tempat yang kita tuju. Kita sampai lupa akan makna hidup yang sebenarnya.

 

3. Bunda Hati yang Terbuka

Maria luput dari dosa asal. Dari semula ia terbuka bagi sapaan Allah. Tidak ada satu detik pun dalam hidupnya yang terbuang. Tidak ada satu karunia pun, yang direncanakan Allah bagi dia diboroskannya. Seluruh dirinya ia biarkan diresapi rahmat. Di dalam diri Maria cinta Allah tidak pernah dialang-alangi oleh sesuatu apa pun. Sejak semula Maria menyerahkan diri kepada rahmat Allah. Ia hidup dengan taat secara mutlak. Sejak awal ia sudah menjadi ’hamba Tuhan.’ Maria tidak pernah memilih sesuatu sesuka hatinya yang dapat mengurangi kesediaannya terhadap Allah.

 

4. Maria Siap Melahirkan

Maria siap untuk melahirkan Sang Penebus. Buah hatinya itulah yang akan menjadi Penyelamat umat manusia, Penyelamat kita. Kita yang telah dipilih menjadi anak-anak Allah pada gilirannya juga dipanggil untuk ’melahirkan kembali Allah’ bagi sesama. Misteri penjelmaan merupakan kepenuhan yang amat melimpah dari janji yang diberikan Allah kepada manusia. Siapkah kita ’melahirkan kembali Allah’ untuk anak-anak yang setiap hari ada bersama dengan kita di sekolah, di dalam kelas?

 

5. Maria yang Melayani

Setelah kisah kabar Malaikat, Lukas Penginjil langsung mengantar kita mengikuti jejak perjalanan Sang Perawan ke Yudea untuk mengunjungi Elisabet. Hal ini menyangkut pertanyaan dan juga keraguan Maria yang dijawab oleh malaikat,”Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Pujian dan Salam Elisabet dimasukkan ke dalam doa Salam Maria. Elisabet memberikan kesaksian bahwa Maria Bunda Mesias, yaitu ketika anak dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan. Kata yang penuh makna dari Elisabet ialah,”Berbahagialah ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan Tuhan akan terlaksana.”(Lukas 1:45).

 

6. Peziarahan Iman Maria

Pada perjalanan iman ini akan ditampakkan ketaatan Maria kepada sabda wahyu Allah yang dijanjikan, meskipun ia mengerti dan mengakui,”Betapa tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya, dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.” (Roma 11:33) Maria menyerahkan diri kepada-Nya dan dengan penuh kerelaan menerima semua yang ditentukan dalam rencana Allah.

Selain Simeon menatang Yesus, Sang Juru Selamat, dia juga menyampaikan anak ini menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat Israel. Terhadap Maria, Simeon menambahkan ’Sebab Dia akan menjadi tanda perbantahan dan pedang akan menembus jiwamu.’ (Lukas 2:34-35)

 

7. Bunda Penasihat yang Baik

Kepada pelayan-pelayan (dalam pesta perkawinan di Kana) ia berkata,”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:5). Maria berpaling kepada Yesus dan mengingatkan-Nya akan kekurangan kita. Maria berpaling juga kepada kita, mengharapkan agar kita membuka diri bagi Yesus. Ia sendiri tidak memberikan perintahnya. Maria tidak pernah mencari perhatian orang bagi dirinya sendiri. Maria selalu menunjuk kepada Yesus, bukan kepada dirinya sendiri. Barangsiapa mengikuti Maria akan sampai kepada Yesus, sebagaimana orang yang mengikuti Yesus akan sampai kepada Bapa. Dalam Litani Santa Perawan Maria kita menyebut Maria ’Bunda Penasihat yang Baik’. Ia memberi kita nasihat dan nasihatnya selalu senada dengan kata yang disampaikannya kepada pelayan di Kana yaitu agar apa yang dikatakan kepada kita, kita perbuat. Maria membimbing kita masuk ke iman yang lebih dalam, dan ketaatan akan Yesus yang makin bertumbuh.


Marilah kita menjadi pendidik yang berinspirasikan kepada Santa Perawan Maria yang terbuka, murah hati, sabar dalam pelayanan, penuh perhatian kepada yang membutuhkan, dan beriman teguh kepada Tuhan.


Akhirnya, marilah kita tanpa henti-hentinya mohon perlindungan kepada Santa Perawan Maria dan seraya belajar dengan rendah hati kepada Maria, agar kita semakin dimampukan untuk mencintai orang-orang muda yang dipercayakan kepada kita. Semoga orang-orang muda yang kita dampingi makin menjadi besar dan semakin berkenan kepada Allah dan sesama.


Selamat pesta Pelindung dan dirgahayu Yayasan Pangudi Luhur

 

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Filipi 1:6)



Semarang, 8 Desember 2009
Ketua,
 

Br. Frans Sugi FIC





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.144.21.195 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/