YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Sabtu, 25 November 2017  - 2 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


01.06.2009 13:37:50 1845x dibaca.
ARTIKEL
MENGGALI KEMBALI FUNGSI SEKOLAH

Dari: Artikel Bianglala


Biasanya jika seorang guru mendapat pertanyaan: mengajar apa di sekolah, jawaban yang umum adalah mengajar bahasa, mengajar matematika, mengajar kesenian, atau mengajar bidang studi yang lain. Mengajar secara umum adalah menyampaikan informasi dan memindahkan pengetahuan dari pengajar (guru) kepada pelajar (siswa). Di dalamnyaada proses agar siswa yang tadinya tidak mengerti jadi mengerti, yang tidak paham menjadi paham. Inilah yang pada umumnya masih dilakukan para guru di sekolah sampai sekarang. Mengapa demikian? Ya karena tuntutan masyarakat, pasar, yang notabene adalah stakeholder yang menghendaki agar sekolah mencetak siswa-siswi menjadi pandai saja. Maka mau tak mau aspek mengajar itu yang kemudian lebih mengemuka.                                    


Dewasa ini memang terlihat adanya fenomena bahwa prestasi seseorang yang paling dihargai adalah prestasi akademiknya. Ia ditempatkan di atas segalanya. Buku rapor atau ijazah yang dihiasi angka-angka tinggi menjadi kebanggaan dan sangat didewa-dewakan siswa,terlebih orangtua. Seolah-olah dengan semua itu masa depan seseorang sudah pasti terjamin. Itu sebabnya, sekolah yang mestinya membekali siswa dengan rupa-rupa kecakapan hidup (life skill) guna menghadapi masa depan dengan permasalahannya yang sangat kompleks berubah menjadi lembaga yang hanya bertugas mencetak anak-anak pandai.    


Memenuhi tuntutan mencetak anak-anak pandai tentu bukan pekerjaan yang gampang, mengingat seorang anak bisa menjadi pandai atau tidak sangat bergantung pada banyak faktor. Sebut saja guru, orangtua, lingkungan, dan yang tak kalah penting adalah si anak itu sendiri. Di samping itu, seringkali kriteria yang dipergunakan orangtua (masyarakat) untuk menentukan seorang anak pandai atau tidak juga sangat sederhana. Asal anak dapat lulus ujian sudah dapat dikategorikan pandai, tak begitu mempedulikan bagaimana nilai itu diperolehnya.            


Sungguh ironis orang pandai dan kaya namun kehilangan arahdan tak punya sikap hidup. Pandai tapi mengalami krisis spiritual, kerawanan jiwa, dan merasa hidup nihil. Seperti itulah yang seharusnya perlu diwaspadai dari anak-anak kita sekarang. Semua ini boleh jadi juga lantaran pendidikan dunia sudah berubah seperti “pabrik”, sebagaimana dikatakan Ivan Illich. Orang lupa, bahwa untuk sukses, pandai saja tidak cukup. Memang benar kepandaian mampu mencetak banyak uang. Namun apakah sukses hidup hanya semata dipatok dari banyaknya uang saja? Tak semua semerbak kehidupan dapat dibeli dengan uang. Anak digembleng bukan untuk yang bersifat moral, tapi lebih bertujuan ekonomi. Banyak orang tua yang masih menyimpan adagium : buat apa bersekolah kalau tak mampu mencetak duit.    


Membayangkan sekolah semacam itu tak ubahnya show room untuk pameran peralatan canggih sebagai upaya menarik siswa sebanyak-banyaknya, atau lembaga bimbingan belajar yang hanya sekedar membantu siswamemecahkan soal soal ujian, seperti ditandaskan oleh Agustinus Maka tak mengherankan bila aktivitas keseharian para guru cenderung hanya mengajar. Nilai-nilai tradisional, yang sebelumnya diandalkan mempertebal budi pekerti anak, di sekolah kian pupus saja. Yang berlangsung hanya transfer ilmu demi memandaikan anak, namun tak diberi peta kehidupan. Anak menjadi besar, luas pengetahuannya tetapi minus kepribadian yang bermoral karena raib gugus humanioranya. Cerdas memakai otak saja pun belum cukup.                


Agar anak kelak menjadi manusia yang utuh, maka arah, spiritualitas, ketegaran jiwa, dan makna hiduplah yang perlu diisikan sekolah pada anak. Sebagaimana pula ditegaskan oleh Budi Susanto tentang pentingnya reorientasi visi dan misi sesuai konteks lokalitas, humanisme universal, dan kualitas kepemimpinan. Maka seyogyanya sekolah harus menjadi laboratorium pengembangan diri anak yang digawangi oleh sosok pemimpin dan pelaksana yang bergaya insinyur kepribadian, agar kelak murid-muridnya menjadi profesor kebahagiaan.        


Bukan perkara yang mudah memang, dua fungsi sekaligus diemban sekolah: mengajar sekaligus mendidik. Tetapi bila sekolah kita tidak melakukannya maka jelas-jelas akan terjadi pendangkalan makna dan fungsi sekolah. Ia hanya akan mencetak nama besar, dan bukan orang besar. Maka berlakulah pepatah non vite sed scholae discimus, belajar bukan demi hidup tetapi demi sekolah. Padahal sejatinya sekolah adalah menciptakan sosok yang merasa kaya kendati tanpa kuasa dan harta.





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.158.214.111 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/