YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Senin, 01 September 2014  - 5 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


24.08.2011 14:02:29 4138x dibaca.
ARTIKEL
Meningkatkan Kemampuan Berpendapat dalam Diskusi

Oleh:  Ag. Budi Susanto, S.Pd.

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengisyaratkan bahwa pembelajaran  harus berpusat pada siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa dituntut untuk mencapai kemampuan berbahasa yang meliputi kemampuan berbahasa dalam membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan yang dituntut untuk dikuasai siswa agar kecakapan berbicara di masa yang akan datang lebih baik.

Salah satu ketrampilan berbicara terdapat dalam kemampuan dasar diskusi yang diajarkan dalam berbagai jenjang pendidikan. Pembelajaran diskusi pada jenjang SMA materi diskusi lebih terfokus di kelas XI  semester genap. Sandar Kompentensi 9, KD 9.1 Merangkum Isi Pembicaraan dalam Suatu Diskusi atau Seminar dan KD 9.2 Mengomentari Pendapat Seseorang dalam Suatu Diskusi atau Seminar. Standar Kompentensi 10, KD 10.1 Mempresentasikan Hasil Penelitian secara Runtut dengan Menggunakan Bahasa yang Baik dan Benar. 10.2 Mengomentari Tanggapan Orang Lain terhadap Presentasi Hasil Penelitian.

Diskusi merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pembelajaran yang sangat mendukung untuk melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat ataupun bertanya. Namun fakta di lapangan, suasana diskusi hanya dikuasai oleh beberapa siswa saja. Siswa yang lain cenderung hanya sebagai peserta yang pasif. Hal ini nampak sekali bagi sekolah-sekolah yang kemampuan siswanya   relatif tidak sama. Mereka yang memiliki kemampuan akademik baik, sedang dan kurang. Mereka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata cenderung akan lebih aktif dibandingkan dengan yang sedang atau bahkan yang kurang.

Kita sebagai seorang guru selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam diskusi secara berulang-ulang. Walaupun demikian hasil yang dicapai tetap sama. Siswa tertentu saja yang aktif  berpendapat ataupun bertanya. Upaya yang dilakukan dengan menerapkan bentuk-bentuk diskusi. Misalnya diskusi kelompok, diskusi panel, bahkan dengan debat. Siswa cenderung masih merasa malu-malu ketika berbicara dalam diskusi dengan teman sekelas. Namun ketika dalam suasana yang lain misalnya bermain, mereka cenderung berani berbicara dengan keras. Hal lain yang sering kita temukan dalam kelas, mereka mau bertanya apabila diminta oleh siswa yang lain atau guru. Sungguh kita sayangkan mengapa hal ini terjadi pada anak didik kita? Salah siapa? Gurukah yang salah atau sistem yang keliru?

Kurang Maksimalnya Pencapaian Kompentensi

Penyebab kurang maksimalnya pencapaian kompentensi dalam diskusi berdasarkan pengamatan di lapangan adalah: (1) Kelemahan hakiki dari teknik diskusi itu sendiri. Kita masih cenderung menggunakan teknik yang lama yakni siswa masuk dalam kelompok dan kita memberikan materi untuk didiskusikan dalam kelompok. Hal ini tentu hanya beberapa siswa yang cepat menangkap permasalahannya.

(2) Teknik pembelajaran yang diimplementasikan dalam rancangan aktivitas kelas yang tidak memberikan pengalaman belajar untuk semua peserta didik secara optimal. Hal ini dipengaruhi karena jumlah peserta didik terlalu banyak. (3) Keterbatasan waktu yang tersedia untuk Kompetensi Dasar ini. (4) Aktivitas berbicara meliputi berpendapat dan bertanya yang kurang merata sehingga kemampuan tersebut belum maksimal. (5) Ketrampilan sosial khususnya keberanian siswa dalam diskusi yang kurang masimal.

 

Sebuah Solusi

Berdasarkan beberapa uraian di atas, berikut ini sebuah penawaran solusi yang sudah pernah penulis cobakan dan hasilnya cukup menggembirakan. Penulis mencoba dengan pendekatan kooperatif model Jigsaw. Keaktifan siswa dalam diskusi di kelas mengalami peningkatan.

Menurut Zakaria dalam Isjoni (2009:21), pendekatan kooperatif dirancang dengan tujuan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran menelusuri perbincangan dengan rekan-rekan dalam kelompok kecil. Siswa melakukan tukar pendapat, tanya-jawab serta mewujudkan dan membina proses penyelesaian terhadap suatu masalah.

Pendekatan ini dimaknai sebagai serangkaian bentuk aktivitas pembelajaran yang diorganisir sedemikian rupa sehingga pembelajaran ini memfokuskan pada pertukaran informasi terstruktur atas pembelajar dalam grup atau kelompok yang bersifat sosial. Dalam pembelajaran ini setiap siswa bertanggung jawab penuh terhadap pembelajaran yang mereka jalani (Kagan dalam Widharyanto dkk, 2003).

Pendekatan model Jigsaw digunakan untuk meningkatkan ketrampilan membaca, menulis, menyimak dan berbicara dengan menggabungkan berbagai informasi yang ada. Selain itu juga membuka peluang kepada siswa untuk mencapai tujuan meningkatkan ketrampilan sosial. Model Jigsaw ini mendorong siswa beraktivitas dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Jumlah anggota kelompok juga dibatasi agar efektif terdiri 4-5 orang (Isjoni 2009).

 

Pelaksanaan Pembelajaran

Guru menyampaikan langkah-langkah pembelajaran diskusi yang akan dilaksanakan dengan pendekatan kooperatif model Jigsaw. Misalnya jumlah siswa 35 anak dibagi menjadi 7 kelompok asal dengan masing-masing anggota 5 siswa.

Setelah mereka masuk dalam kelompok asal yang terdiri  5 siswa, guru memberikan teks yang berbeda untuk kelima anggota kelompok tersebut. Teks tersebut misalnya (a) Nyamuk Penghisap Darah, (b) Bagaimana Kabut Terbentuk, (c) Kuiper Belt Object, (d) Belajar Batik di Museum Pekalongan, (e) Kereta Api Supercepat di Masa Depan. Mereka kita berikan waktu kurang lebih 5 menit untuk membaca teks tersebut sebagai modal masuk dalam kelompok ahli.

Selanjutnya setiap kelompok diminta untuk mengirimkan wakilnya dalam diskusi di kelompok ahli sesuai dengan kesamaan judul teks hasil kajian. Kelompok ahli tersebut terbentuk menjadi 5 kelompok sesuai jumlah teks. Pada tahap ini, siswa mulai berdiskusi dan bertukar informasi satu dengan yang lainnya.  Siswa terlihat aktif dalam mengikuti diskusi di kelompok ahli. Setelah waktu diskusi di kelompok ahli dinyatakan selesai, siswa berkumpul kembali dengan kelompok semula atau kelompok asal.

Dalam kelompok asal inilah setiap siswa harus mempresentasikan hasil kajian berdasarkan teks yang dimilikinya dan hasil diskusi dari kelompok ahli. Sedangkan keempat siswa lainnya harus mengajukan pertanyaan secara bergantian. Setiap siswa diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh penyaji. Sehingga setiap siswa mendapat kesempatan dan tugas yang sama. Setelah tanya jawab selesai, diakhir  presentasi siswa harus membuat kesimpulan tentang hasil kajian yang disampaikan. Aktivitas ini berlangsung dalam waktu 30 menit.

Setelah proses diskusi dalam kelompok ahli terlaksana dan dinyatakan berakhir, siswa bersama guru membuat kesimpulan  berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Secara perwakilan siswa menyampaikan tanggapannya terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Aktivitas ini berlangsung sekitar 20 menit.

 

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran

Banyak kelebihan yang didapatkan dengan pendekatan kooperatif model Jigsaw ini: (1) Dapat meningkatkan harga diri setiap individu. (2) Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar. (3) Konflik antar pribadi dan sikap apatis berkurang. (4) Pemahaman terhadap materi lebih mendalam. (5) Retensi atau penyimpanan lebih lama. (6) Mampu meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi. (7) Dapat mencegah keagresifan dalam sistem kompetensi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif. (8) Mampu meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif. (9)  Mampu meningkatkan kemajuan belajar (pencapaian akademik). (10) Menambah motivasi dan percaya diri. (11) Mampu menambah rasa senang berada di sekolah dan menyenangi teman-teman sekelasnya. (12) Mudah diterapkan dan tidak mahal.

Kelemahan pembelajaran dengan model ini sedikit kita temukan. Permasalahan yang muncul terkesan pembelajaran ini cenderung agak ribut. Hal ini nampak dalam siswa melakukan perpindahan kelompok maupun proses diskusi. Namun hal ini dapat kita atasi yaitu dengan mencari ruang diskusi atau tempat yang agak jauh dengan kelas yang lain sehingga tidak akan mengganggu proses belajar mengajar kelas yang lain.

Untuk mengadakan penilaian terhadap individu dalam proses diskusi tentu sulit dilakukan sendiri oleh seorang guru. Siswa harus masuk dalam kelompok yang kecil. Guru harus melakukan kolaborasi dengan guru yang lain. Penulis mencobakan proses belajar ini dengan mengadakan kolaborasi dengan para mahasiswa PPL Jurusan Pendidikan Bahasa  Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Sanata Dharma semester  yang lalu. Setiap guru  atau mahasiswa mengamati satu kelompok ahli.

 

Kesimpulan

Penerapan penggunaan pendekatan kooperatif dengan menggunakan Model Jigsaw akan meningkatkan keberanian siswa dalam diskusi khususnya dalam menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Setiap siswa mendapat tanggung jawab untuk mempresentasikan apa yang sudah dipahami kepada  4 teman yang lain dan siap untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Siswa juga harus bertanya terhadap presentasi dari siswa yang lain.

Penulis menyarankan bagi guru Bahasa Indonesia berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi berbicara, hendaknya dilakukan dengan menerapkan berbagai teknik dan metode dalam pembelajaran agar proses KBM lebih menarik. Salah satunya dengan menerapkan pendekatan kooperatif model Jidsaw untuk meningkatkan kemampuan berpendapat dan bertanya.

Selain penerapan metode yang bervariasi, dalam pembelajaran guru perlu mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan memilih materi yang sesuai. Hasil yang diharapkan tentunya pembelajaran semakin menarik dan bervariatif. Semoga.

*) Guru SMA Pangudi Luhur ”St Louis IX” Sedayu

 

 





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 23.20.211.153 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2014  http://www.pangudiluhur.org/