YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Selasa, 23 Oktober 2018  - 4 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


19.02.2009 12:12:23 2302x dibaca.
ARTIKEL
MISTERI KEKUATAN MEMBACA

Oleh : BR. Justinus Juadi, FIC

“MEMBACA dan menulislah selagi Bruder masih muda!” itulah ungkapan dan dukungan bruder overste saya. Petuah itu masih dilanjutkan “apalagi kalau Bruder ingin menulis, sebab membaca merupakan kekuatan terbesar untuk mengembangkan diri, sama halnya dengan makanan, gizi penulis adalah membaca.” Berbeda lagi dengan ungkapan seorang guru anak tunarungu, “Bruder, liburan nanti saya akan  mengasuh anak di desa dan membaca buku.”


Mendengar ungkapan dari dua sahabat tersebut, lantas pikiranku terbayang dengan sosok ilmuwan terkemuka Thomas  Alva Edison. Kendati pernah “drop out”  dan mendapat cap  “anak bodoh”,  Thomas menjadi pribadi yang sukses berkat membaca. Tidak kurang dari tiga ribu penemuan yang dicatat atas namanya. Membaca bukanlah pekerjaan yang sia-sia atau membuang waktu saja (wasting time). Dengan  membaca buku mampu mengubah kehidupan seseorang. Membuka cakrawala dunia.


Mengembangkan diri lewat membaca buku bisa di mana dan kapan saja. Bolehlah pada saat-saat luang dan libur mengagendakan waktu untuk membaca, entah menghabiskan satu, dua, atau tiga buku dalam waktu satu bulan. Titik-balik dari kebiasan membaca  adalah pola pikir seseorang akan berkembang, berdaya guna dan pada saatnya akan menemukan potensi diri.


Dr. C. Edward Coffey, seorang peneliti dari Henry Ford Health System, telah membuktikan bahwa dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit Demensia atau pikun. Demensia merupakan penyakit yang merusak jaringan otak. Seseorang yang terkena demensia dipastikan akan mengalami kepikunan atau dalam bahasa  gaulnya “Tulalit”.

 

Ketika membaca tulisan Bruder Frans Sugi FIC  dalam  “Idealisme dan Praksis Pendidikan Pangudi Luhur”, saya mendapati perhatian besar seorang guru terhadap muridnya. Sebagai guru Bahasa Indonesia, Br Frans membacakan karya sastra dalam jam-jam pelajaran, cerita pendek Robohnya Surau Kami (Ali Akbar Navis), Ave Maria (Idrus), dan novel karya Mira W (yang populer di tahun 80-an) dibacakan sampai habis. Pola membaca yang demikian ternyata membantu anak-anak dapat mencicipi nikmatnya karya sastra. Sang guru tersebut menjadi fasilitator untuk menumbuhkan kebiasaan membaca  muridnya. Dengan demikian anak akan mempunyai kegemaran membaca buku dan nilai kecakapan hidup (life skill) tertanam dalam dirinya. Kebiasaan semacam inilah yang kiranya dibangun dalam lingkungan sekolah.


Kebiasaan membaca secara intensif saya lakukan ketika menjalani masa Postulat dan Novisiat Kanonik  pendidikan Bruder FIC. Saya harus  “Studi Pustaka dan Sidang Akademik”.Waktu satu jam digunakan untuk membaca sambil meringkas.


Setiap hari harus meringkas dan hasil ringkasan tersebut dikumpulkan. Bila mendapat nilai “B” dan tertera tanda tangan pembimbing rasanya puas hati ini. Sidang Akademik wajib  mempresentasikan hasil studi di hadapan teman-teman angkatan. Dalam membaca tersebut setidaknya logika saya berkembang dan saya dapat memahami konsep serta istilah.  Walaupun saat-saat tertentu  sulit memahami isi bacaan, tidak mudeng, atau bahkan “nggak nyantol” sama sekali apa yang saya  baca, apalagi kalau lagi  bete atau bad mood.


Di kota-kota tertentu membaca rupanya sudah menjadi kebiasaan, terlebih didukung dengan adanya perpustakaan umum. Salah satu teman saya heran mana kala sebuah perpustakaan di kota Semarang diserbu oleh puluhan pengunjung “Wuah… boleh juga ya perhatian masyarakat Semarang dalam membaca” begitu komentarnya.


Jika membaca sudah menjadi  kebiasaan, berarti masyarakat sadar bahwa membaca itu penting dan menjadi kebutuhan. Pertama, memberikan informasi, misalnya dengan membaca koran dan majalah. Yang kedua, memberi penghiburan, misalnya dengan membaca novel. Yang ketiga, yang paling penting, tetapi sekaligus  paling sulit, memberikan pengertian. Sebuah buku bisa saja memberikan pengertian sekaligus menghibur dan memberikan informasi, dengan membaca akan membantu pertumbuhan  otak (Kompas, Senin 21 Mei 2007).


Betapapun besar manfaat membaca, jika kurang memiliki kesadaran hal itu tak akan terwujud. Pernah suatu saat ada guru yang mengeluh kepada saya karena anaknya tak suka dan berminat membaca. “Bruder anak saya sampai sekarang sulit dibiasakan untuk membaca, tetapi  menonton TV betah hingga  berjam-jam…”  Ketika dinasihati untuk membaca, anak tersebut justru menimpali, “Yesus aja nggak pernah membaca dan sekolah kok Bu!”


Ternyata tidak mudah menumbuhkan kegemaran membaca.  Pepatah Inggris mengatakan “we first make our habits, then our habits make us” Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, bila orang tua ingin anaknya mempunyai kegemaran membaca buku, maka membaca buku perlu dibiasakan sejak kecil, disamping perlunya keteladanan dari orang tua sendiri..


Akhirnya, kita layak merenungkan pendapat Dr Tengku Asmadi : Dengan ilmu manusia disanjung, dikagumi dan dihormati.  Kejayaan dan kecemerlangan hidup tidak mungkin tercapai tanpa ilmu. 





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.161.77.30 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2018  http://www.pangudiluhur.org/