YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Sabtu, 25 November 2017  - 4 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


10.03.2010 09:27:29 8103x dibaca.
ARTIKEL
PAMONG PARA SEMINARIS AWAM

Di sebuah kota kecamatan, Muntilan, Jawa Tengah, terdapat Sekolah Menengah Atas Pangudi Luhur Van Lith, disingkat SMA PL Van Lith. Sekolah ini menampung sekitar 400-500 remaja Katolik atau sekitar 160 per angkatan dari seluruh Indonesia untuk dididik sebagai “seminaris awam”. UNTUK menjadi murid SMA Van Lith, para siswa kelas tiga SMP harus mengikuti serangkaian tes masuk, meliputi kemampuan akademik, fisik, dan wawancara. Tes biasanya berlangsung jauh sebelum ujian akhir SMP.


Kemudian, mereka yang telah diterima di SMA PL Van Lith, diasramakan. Murid laki-laki dimasukkan ke Asrama Putra (Aspa) yang diasuh bruder-bruder Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda (Congregatio Fatrum Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis/FIC). Sedangkan murid perempuan dimasukkan ke Asrama Putri (Aspi) yang diasuh para suster Tarekat Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB).


Lokasi Aspa berada sekompleks dengan kampus, sedangkan letak Aspi berjarak sekitar 100 meter dari kampus. SMA PL Van Lith dengan Aspa dan Aspi-nya ini sungguh tampak indah dan sejuk karena dilatarbelakangi Gunung Merapi.


Br Albertus Suwarto FIC SPd (40), biarawan kelahiran Sleman, Yogyakarta, 19 November 1969, adalah Rektor/Kepala Sekolah SMA PL Van Lith. Tampilannya kalem, murah senyum. Meski tubuhnya tidak terlalu tinggi, sangatlah berwibawa. Br Suwarto juga cepat akrab dengan siapa saja, baik murid, para guru, maupun orangtua/wali murid. Hal itu tampak jelas ketika dia menyambut kedatangan orangtua/wali murid untuk live-in di Aspa dan Aspi dalam rangka Pertemuan Orangtua Siswa Kelas X dan Sekolah,
Sabtu-Minggu, 18-19/12. Selama live-in orangtua/wali murid harus mengikuti aturan Aspa/Aspi dengan pengawasan cukup ketat dari anak-anak mereka sendiri.


Warisan Van Lith
Br Suwarto menjelaskan, SMA PL Van Lith sebenarnya mengembangkan harta warisan nilai dari Romo Fransiskus Gregorius Van Lith SJ, seorang misionaris asal Belanda yang menjadikan Muntilan sebagai “Betlehem van Java” atau cikal-bakal umat Katolik Jawa. Romo Van Lith datang ke Jawa sejak 17 Mei 1896. Warisan tersebut adalah memberikan pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda “Jawa/Indonesia”, sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik di dalam masyarakat dan memberikan pendidikan kristiani. “Kedua prinsip tersebut dipadatkan dalam satu sekolah dengan asrama,” tutur Br
Suwarto.


Warisan lain, lanjut Br Suwarto, Romo Van Lith menginginkan sekolah-sekolah yang mendidik pemimpin-pemimpin. “Romo Van Lith ingin merealisasikan visinya dengan dua prinsip: ‘Pembentukan watak dan mental dibarengi dengan pencetakan pemimpin-pemimpin’,” ungkapnya. Terkait dengan SMA PL Van Lith, Br Suwarto menjelaskan, diawali dengan keprihatinan para cendekiawan Yogya yang pada tahun 1990-an melihat umat Katolik dalam bidang politik (kabinet dan DPR) mulai tergeser. Para cendekiawan Yogya yang kemudian membentuk Forum Kelompok Cendekiawan Katolik (FKCK) menyelenggarakan sejumlah pertemuan untuk mendiskusikan tentang “Kaderisasi Awam”.


Dari hasil diskusi-diskusi tersebut, dimunculkan sejumlah ide dalam rangka “Kaderisasi Awam” melalui berbagai bidang antara lain politik, budaya, media massa, dan pendidikan. SMA PL Van Lith merupakan salah satu perwujudan ide tersebut di bidang pendidikan. “Uskup Agung Semarang Mgr I. Suharyo Pr yang kini menjadi Uskup Agung Koajutor Keuskupan Agung Jakarta lalu menyebut SMA PL Van Lith sebagai ‘seminari awam’. Yang seminari calon imam berada di Mertoyudan,” jelas Br Suwarto, lulusan IKIP PGRI (S1) yang kini studi Pasca Sarjana (S2) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Br Suwarto mengingatkan, pada zaman Romo Van Lith dulu, Sekolah Muntilan hanya menerima murid laki-laki, murid perempuannya ditampung di Sekolah Mendut. Jarak Muntilan – Mendut yang relatif dekat, membuat murid-murid Muntilan dan Mendut saling berinteraksi, dan tidak sedikit di antara mereka saling jatuh cinta, kemudian membangun keluarga-keluarga Katolik yang hebat.

“SMA Van Lith sekarang ada murid laki-laki dan perempuan. Ini kan secara (harapan) tersembunyi agar mereka dapat seperti para generasi Muntilan-Mendut itu,” gurau Br Suwarto yang mengaku berasal dari “pinggiran jauh Jakarta”, yakni Sleman. Tugas berat Br Suwarto yang gemar berolahraga dan membaca ini, tahun 2010 memasuki tahun kelima sebagai rektor/kepala sekolah. “Kemungkinan saya akan dipindah,” ungkapnya. Sebagai seorang biarawan, pindah tugas pelayanan adalah hal biasa. Namun, bagi mereka yang ditinggalkan, tentu akan mempunyai alasan untuk bersedih. Para siswa – sebagian besar berasal dari kota di luar Muntilan dan Magelang – melihat Br Suwarto sebagai pengganti figur bapak.


“Orangnya baik banget,” komentar Asti, anak Aspi asal Bekasi, Jawa Barat usai meminta tanda tangan Br Suwarto agar dapat mengambil rapor semesteran. Dia harus meminta tanda tangan terkait dengan orangtuanya yang meminta keringanan waktu untuk melunasi uang pangkal sekolah. Persoalan “uang sekolah” ini bagi Br Suwarto menjadi persoalan berat. Sebab, baginya, tidak ada kamus anak-anak yang ingin mendapatkan pendidikan yang baik terganggu karena tiada biaya.


“Sekolah Katolik tetap harus memberi ruang bagi anak miskin. Tidak cukup hanya memperhatikan anak miskin,” tandasnya. SMA PL Van Lith juga tidak boleh menolak murid yang kurang mampu dalam hal biaya. Di sekolah ini diberlakukan subsidi silang dan dilakukan secara transparan. Tugas berat lainnya adalah mengampu ratusan anak yang berasal dari beragam status sosial dan daerah. Untuk itu, baik Aspa maupun Aspi memiliki aturan asrama yang ketat.


Bila melanggar dikenakan teguran dan sanksi. Untuk memudahkan adaptasi, siswa kelas I (X) selama tahun pertama tinggal di asrama tidak diperkenankan membawa handphone dan sebulan pertama tidak boleh dihubungi dan dikunjungi oleh orangtua maupun sanak familinya. Dinamika siswa Namun, tugas “paling berat” sebagai pamong adalah bagaimana mewujudkan harapan para pecetus ide menjadikan SMA PL Van Lith sebagai “seminari awam”.


Visi SMA PL Van Lith adalah merupakan lembaga pendidikan yang mendidik kaum muda yang mengembangkan semangat Kerajaan Allah yang berintikan keselamatan bagi semua orang. Kemudian misinya, antara lain mendampingi peserta didik beriman Katolik dalam mengembangkan kepemimpinannya sebagai agen perubahan sosial (pemimpin masa depan); mendampingi peserta didik dalam mengembangkan kepribadian yang utuh, baik secara intelektualitas, humanitas, religiositas, maupun keterampilannya.


Untuk mewujudkan harapan tersebut, SMA PL Van Lith menyelenggarakan program yang dinamakan “Dinamika”. Dalam program ini, pihak sekolah membangun jejaring kerjasama dengan orangtua/wali murid, alumni, dan lembaga-lembaga atau pribadi-pribadi yang peduli pada “seminari awam” itu. Misalnya, ada program seorang siswa dititipkan kepada tokoh atau orang yang sudah berhasil di bidangnya. Dengan harapan, anak tersebut dapat menimba secara langsung pengetahuan dan pengalaman sang tokoh. “Pak J. Kristiadi, pengamat politik terkenal itu, selalu bersedia dititipi anak-anak Van Lith yang bercita-cita di bidang politik, meskipun anak beliau sendiri tidak diterima di SMA PL Van Lith,” tutur Br Suwarto sembari terkekeh.


Si lembut hati yang membiara sejak 20 Juli 1990 ini ternyata juga memiliki kelemahan. Br Suwarto itu salah seorang fans berat Chelsea, kesebelasan Inggris. Disarankan, jangan dekati dia ketika Chelsea tengah mengalami kekalahan. “Kita bisa dibentak dan mukanya bisa masam seharian,” ungkap seorang penghuni Aspa.


BIODATA
Br Albertus Suwarto FIC
Tempat lahir : Sleman, Yogyakarta
Tanggal Lahir : 19 November 1969
Hobi : Olahraga dan membaca
Masuk Biara FIC : 20 Juli 1990

Pendidikan terakhir:
S2 - Sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY)
Pekerjaan:
Rektor/Kepala SMA PL Van Lith Muntilan (2005 – sekarang)

Semboyan:
Sekolah Katolik tetap harus memberi ruang bagi anak miskin.
Tidak cukup hanya memperhatikan anak miskin.
Penulis: Budi Santosa Johanes
[Pernah dimuat dalam Majalah HIDUP Edisi 06 – Minggu 07
Februari 2010]





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.158.214.111 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/