YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Selasa, 02 September 2014  - 3 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


15.01.2008 07:50:45 2140x dibaca.
ARTIKEL
PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Oleh : Marcella Elwina S. dan Theo Riyanto, FIC


Korupsi, Kolusi dan Nepotisme


Setiap tahun biasanya Transparansi Internasional mengumumkan peringkat negara-negara terkorup di dunia. Pada tahun 2003 Indonesia menduduki peringkat ke 6 dari 133 negara yang disurvei. Di ASEAN, Indonesia tetap menjadi negara terkorup. Pada tahun-tahun berikutnya Indonesia tetap termasuk negara terkorup di dunia.


Kita semua tahu bahwa korupsi di Indonesia telah merambah dan telah meliputi hampir semua sektor kehidupan yang sifatnya sangat kompleks dan bervariasi. Bahkan korupsi di Indonesia telah menjadi fenomena sosial yang meliputi baik korupsi yang besar dan juga korupsi kecil-kecilan. Korupsi ini dilakukan baik oleh para pegawai pemerintah dari pejabat sampai karyawan biasa, melibatkan pula sektor swasta. Korupsi terjadi dalam berbagai lembaga baik lembaga pemerintah (eksekutif). Lembaga legislatif maupun lembaga yudikatif, lembaga swasta, bahkan di dunia pendidikan dan Departemen Agama.


Banyak sekali faktor yang mendukung terjadinya korupsi, dan sangat sedikit data penelitian yang secara empiris dapat menerangkan penyebab korupsi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa korupsi terjadi karena motivasi baik dari individu maupun kelompok untuk memperkaya diri dan adanya kesempatan untuk melakukan korupsi. Dengan kekuasaan yang besar dan lama dimiliki, seringkali dapat mempengaruhi orang untuk melakukan tindak korupsi. Korupsi sendiri secara umum diakui mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan suatu negara.


Korupsi terbukti mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia misalnya dengan menurunnya minat investasi. Secara umum korupsi telah pula diakui sebagai penghalang bagi laju pertumbuhan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. Korupsi dapat diartikan sebagai perbuatan penyalahgunaan kekuasaan/wewenang yang merugikan masyarakat luas yang dilakukan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Atau secara hukum pidana diartikan sebagai bentuk tertentu dari kejahatan. Korupsi juga diartikan sebagai “the abuse of public power for private gain” yaitu penyalahgunaan kekuasaan dari pejabat publik atau pihak lain yang berhubungan dengan mereka, yang bertentangan dengan moral, nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan hukum, untuk memperkaya diri.


Sedangkan kolusi adalah permufakatan, persekongkolan atau kerjasama antar Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggaraan Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat, dan atau negara. Kita juga mengenal nepotisme. Nepotisme adalah setiap perbuatan Penyelenggara Negara yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.


Upaya Menanggulangi

Salah satu strategi atau upaya untuk menanggulangi korupsi adalah dengan melakukan “Law reform” (pembaharuan undang-undang). Berbagai perangkat hukum dan perundang-undangan serta kebijakan dibuat untuk menanggulangi atau memberantas korupsi. Namun, perlu disadari bahwa langkah penanggulangan serta pemberantasan korupsi tidak dapat hanya disandarkan pada perangkat hukum semata. Dalam realitanya diperlukan pendekatan atau strategi integral dalam penanggulangan korupsi, dalam arti tidak hanya melakukan pembaharuan undang-undang namun juga pembaharuan secara politis, administratif, sosial, budaya dan moral. Selain reformasi di segala bidang kehidupan, seluruh komponen masyarakat harus bergerak bersama dengan segala cara menanggulangi dan memberantas korupsi.


Media massa harus dijadikan sebagai media atau sarana kontrol, karena pemerintahan yang baik hanya dapat dicapai salah satunya jikalau masyarakat sipil diberikan ruang yang cukup besar untuk ikut terlibat dan mengawasi jalannya pemerintahan. Salah satu bentuk penanggulangan korupsi adalahmelalui jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun informal. Upaya ini bahkan telah diujicobakan di beberapa negara dengan difasilitasi baik oleh World Bank maupun Transparancy International dengan melibatkan anak-anak sekolah dari usia dini sampai usia dewasa.


Menanggulangi Korupsi lewat Pendidikan:
Mengapa?

Untuk menanggulangi korupsi harus ada upaya pendekatan dan strategi integral termasuk melakukan reformasi disegala bidang. Salah satu upaya yang hendaknya ditempuh adalah upaya preventif atau pencegahan. Upaya itu adalah melaksanakan pendidikan anti korupsi dengan melaksanakan pembelajaran berdasarkan pengalaman tentang nilai-nilai anti korupsi. Mendidik sendiri pada umumnya dipahami sebagai suatu cara untuk menyiapkan dan membantu seseorang untuk mencapai suatu tujuan hidup, yaitu menjadi manusia utuh, sempurna dan bahagia. Driyarkara 24 Bianglala mengungkapkan bahwa pendidikan itu bertujuan untuk memanusiakan manusia muda, membantu seseorang untuk menjadi manusia yang berbudaya dan bernilai tinggi, bukan hanya hidup “sebagai manusia”.


Tetapi manusia yang bermoral, berwatak, bertanggung jawab dan bersosialitas. Selanjutnya dengan pendidikan, seseorang akan dibantu untuk menjadi manusia yang aktif dalam membangun hidup bermasyarakat dan berbangsa Demikian pula dengan upaya pencegahan korupsi, dapat dilakukan melalui sarana pendidikan dengan proses pengenalan dan pemberian informasi nilai-nilai anti korupsi dengan harapan membantu anak didik untuk menjadi manusia yang bermoral, berwatak serta bertanggung-jawab dalam rangka membangun hidup bermasyarakat dan berbangsa. Pendidikan nilai-nilai anti korupsi sendiri dapat disampaikan dengan berbagai macam cara. Secara formal pendidikan nilai-nilai anti korupsi dapat dilakukan di sekolah, secara informal di rumah (keluarga), di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; dapat dilakukan dengan cara lisan maupun tertulis.


Dalam kegiatan sehari-hari misalnya mendidik nilai-nilai anti korupsi dapat dilakukan dengan meyakinkan generasi muda untuk menolak segala bentuk “suap”, memonitor segala bentuk “suap” atau “korupsi” yang dialami atau terjadi di lingkungannya; mendorong generasi muda untuk memberikan informasi serta mengkampanyekan isu anti korupsi dalam lingkungannya. Di sekolah misalnya dapat dilakukan upaya mendeklarasikan “Sekolah sebagai Zona Bebas Korupsi”; menyelenggarakan kompetisi seperti pembuatan poster, kartun/karikatur, puisi, tulisan ilmiah populer, drama, dan lain-lain sebagai ajang kampanye anti korupsi; membentuk klub anti korupsi, menyelenggarakan seminar kecil, diskusi, role-playing; menyelenggarakan focus group discussion (studi kasus, membuat skenario film, dll) bersama-sama dengan teman, guru, orang tua, dan lain-lain.; memasukkan nilai-nilai anti korupsi dalam kurikulum sekolah. Dan perlu juga praktik langsung seperti menyelenggarakan kantin kejujuran, kelas anti korupsi, dan lain-lain. Selain pertimbangan melalui jalur pendidikan,ada beberapa pertimbangan mengapa generasi muda, khususnya pendidikan jalur sekolah, dididik untuk mengerti, memahami dan menghayati nilai-nilai anti korupsi. Pertama, kita harus menyadari bahwa pengalaman


korupsi pasti juga dialami oleh generasi muda. Pada saat yang bersamaan generasi muda dapat menjadi korban korupsi, pelaku korupsi atau ikut serta melakukan atau terlibat perkara korupsi, dan sangat mungkin pula menjadi pihak yang menentang perilaku korupsi. Kedua, kita mungkin bisa melihat bahwa generasi muda dalam sejarah memiliki andil atau sebagai key-actors dalam proses reformasi, pembaharuan, political dan social ..renewal atau movement yang terjadi di negara kita. Ketiga, sudah selayaknya generasi muda dengan segala potensi, kreativitas, energi yang dimiliki, turut diberdayakan secara umum untuk menjadi “agent of transformation” atau “agent of change” dan secara khusus untuk memberantas korupsi.


Pendidikan Anti Korupsi yang Bagaimana?

Bagaimanakah pendidikan nilai-nilai anti korupsi ini akan disampaikan di sekolah? Model yang bagaimana yang harus dipilih dan digunakan serta metode atau cara penyampaiannya? Keberhasilan untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi akan dipengaruhi pula oleh cara penyampaiannya, pendekatan pembelajaran yang dipergunakan. Untuk tidak menambah beban siswa yang sudah cukup berat, perlu dipikirkan secara matang bagaimana model dan pendekatan yang akan dipilih. Ada beberapa model untuk menanamkan nilai-nilai anti korupsi yang dapat dipilih yang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Model-model itu misalnya:

  1. model sebagai mata pelajaran tersendiri;
  2. model terintegrasi dalam semua mata pelajaran;
  3. model diluar pengajaran (misalnya dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan insidental);
  4. model pembudayaan nilaidalam seluruh aktivitas dan suasana sekolah; dan
  5. model gabungan diantaranya.

Sedangkan untuk metode atau cara penyampaian nilai-nilai anti korupsi seyogyanya menggunakan cara yang demokratis, merupakan suatu upaya bersama,aktivitas bersama, dengan menggunakan model keteladanan, pengalaman langsung atau simulasi, live in serta melakukan klari.kasi nilai. Pada prinsipnya adalah menggunakan metode yang melibatkan seluruh aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta kecerdasan sosial.


Maka pemahaman konsep, pengenalan konteks, reaksi dan aksi menjadi bagian penting dari seluruh metode pendidikan nilai-nilai anti korupsi. Metode atau cara penyampaian nilai-nilai anti korupsi ini juga penting karena dengan cara penyampaian yang tidak tepat, tujuan yang akan dicapai juga sulit diperoleh. Supaya tujuan yang akan dicapai dapat diperoleh, dalam penyampaian nilai-nilai anti korupsi, harus digunakan cara-cara yang menarik dan disesuaikan dengan kemampuan anak didik.


Penting pula kita memilih elemen-elemen atau materi yang akan disampaikan melalui jalur pendidikan. Sebagai contoh Ellie Keen misalnya membuatnya menjadi beberapa kategori, misalnya pesan apa yang hendak disampaikan pada generasi muda, siapa target grupnya, perubahan apa yang hendak diharapkan akan dicapai, bagaimana mengumpulkan dan memilih informasi yang akan disampaikan dan terakhir bagaimana cara penyampainnya.


Sasaran : anak-anak sampai kaum muda

Ada dua paradigma pandangan terhadap anak-anak. Pertama, adalah paradigma Dionysian yang memandang bahwa anak adalah “little devils”, anak hanyalah indah untuk dilihat dan dipandang, bukan untuk didengar, anak membutuhkan perlindungan dari diri mereka sendiri, masa kanak-kanak adalah masa untuk melatih disiplin. Kedua, adalah paradigma Apollonian yang memandang anak sebagai “little angels” yang menyatakan bahwa masa anak-anak adalah masa bermain, bukan masa untuk memikirkan hal-hal yang sulit, anak-anak memerlukan perlindungan dari dunia luar yang kejam, sifat anak adalah pasif, innocent, dan kepada mereka harus diberikan kebahagiaan sebesar mungkin.


Dengan paradigma yang demikian, kita telah membatasi serta mena.kan kemampuan anak untuk ikut terlibat dalam perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Dengan paradigma yang demikian, kita kemudian memandang masa anak-anak sebagai masa yang terpisah dari dunia orang dewasa, anak-anak adalah manusia yang belum komplit seperti layaknya orang dewasa. Hal ini kemudian membuat generasi muda terpisah dari dunia pada umumnya.


Mengajarkan integritas pribadi: sebuah persoalan dilematis

Ada persoalan dilematis dalam menanamkan nilai nilai anti korupsi kepada generasi muda.
Dilema tersebut dapat dilihat demikian. Apakah sudah tepat, apakah sudah pantas, bila kita hendak mengajarkan nilai-nilai yang baik, integritas kepada anak-anak atau kaum muda? Bukankah mereka sebenarnya telah memiliki integritas yang lebih baik dari diri kita sendiri? Bukankah mereka lebih jujur, lebih bersih dari diri kita sendiri? Bukankah keadaan dan korupsi yang sudah sedemikian parah yang terjadi saat ini menunjukkan kegagalan generasi terdahulu, generasi masa lalu dalam memerangi korupsi?


Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan ini, ada beberapa hal yang menarik untuk didiskusikan yaitu apakah kita akan mengajarkan nilai-nilai anti korupsi terhadap anak-anak; atau akankah kita belajar akan arti kejujuran, arti kepolosan, arti ketulusan, arti keterbukaan, arti keadilan, arti tanggungjawab dari mereka? Jawabannya terserah kita masing-masing dan secara bersama.

*) Penggerak Pendidikan Anti Korupsi UNIKA Soegiyopranata Semarang





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.234.51.165 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2014  http://www.pangudiluhur.org/