YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Sabtu, 25 November 2017  - 2 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


02.06.2009 04:40:48 2310x dibaca.
ARTIKEL
SEKOLAH PL ≠ TEMPAT BIMBEL

Dari: artikel Bianglala (YPL Menyapa)

 

Apa bedanya sekolah dengan tempat bimbingan belajar? Secara konsep kita tahu pasti sekolah dan tempat bimbingan belajar adalah dua hal yang berbeda. Tetapi dalam tataran praktik belum tentu sekolah tertentu berbeda dengan tempat bimbingan belajar. Artinya sekolah tidak lagi menjadi tempat pendidikan bagi siswa.


Pendidikan dibangun dengan, entah formal, informal atau non formal hendaknya memiliki dasar yang kokoh dan kuat. Praktek pendidikan yang hanya mementingkan ilmu pengetahu-an yang dimasukan dalam otak peserta didik lewat kegiatan pembelajaran tidaklah cukup untuk membentuk pribadi peserta didik yang utuh menyeluruh. Di sinilah pentingnya sebuah visi sebagai “rohnya” pendidikan. Peserta didik harus dibantu untuk belajar hidup secara lebih manusiawi dalam masyarakat, sebagai manusia-manusia yang memiliki kepribadian yang seimbang baik jasmani maupun rohani.


Hal ini berarti pendidikan yang dibangun, harus senantiasa berpusat dan bersumber pada pribadi manusia dalam arti orientasi dasar dari pendidikan tersebut adalah pembentukan pribadi-pribadi manusia, memberikan ruang gerak bagi kreasi pengembangan kepribadian manusia, mampu menghantar subyek atau peserta didik untuk memahami dirinya, dunianya dan sesamanya. Peserta didik adalah subyek dan pelaku utama pertama dari pendidikan itu sendiri.


Bila kehidupan masa depan peserta didik menuntut kemampuan memecahkan masalah baru secara inovatif, maka apa yang diajarkan kepada peserta didik mesti menuntut kemampuan untuk memecahkan masalah baru secara lebih baik. Ada kemungkinan kenyataan yang dialami selama ini adalah proses pendidikan yang didominasi oleh kegiatan kognitif yang tertuang dalam kurikulum. Padahal idealnya peserta didik diajarkan tentang pengolahan informasi, interpretasi dan pemberian makna terhadap apa yang dipelajari. Bukan kegiatan mendengar dan menghafal. Pengolahan informasi, interpretasi dan pemberian makna mengandung konsekuensi bahwa pembelajaran adalah media dan sarana membangun ilmu pengetahuan yang akan mengarah pada kualitas individu.


Kenyataan psikologis yang lain menunjukkan bahwa proses pendidikan masih didominasi oleh pendidikan yang bersifat otoriter, represif dalam arti peserta didik selalu ditempatkan dalam posisi yang lemah bila berhadapan dengan para pendidik, lembaga atau institusi. Seharusnya pendidikan memberikan suasana yang menyenangkan, yang memberikan kesempatan dan peluang bagi peserta didik untuk berkreasi, mengembangkan dan menunjukkan kemampuannya yang beraneka ragam sehingga tercipta suasana belajar yang demokratis.


Kepribadian peserta didik menuntut pola perilaku yang unik dan divergen. Sebaliknya apa yang diajarkan kepada peserta didik adalah pola perilaku yang konformitas dan serba seragam. Pola pikir yang sentralistis, monolitik, uniformistik sangat kental terasa dan mewarnai pengemasan berbagai bidang kehidupan. Pendidikan yang sungguh mengagungkan pembentukan perilaku keseragaman dengan harapan akan menghasilkan keteraturan, ketertiban, ketaatan dan kepastian. Padahal hasilnya peserta didik sangat sulit untuk menghargai perbedaan. Bahkan perilaku perbedaan dilihat sebagai suatu kesalahan yang harus dihukum. Akibatnya nilai kerja sama dan semangat persaudaraan menjadi kabur karena peserta didik diajar untuk berkompetisi dan bersaing.


Kenyataan-kenyataan seperti ini menyebabkan sekolah bukanlah tempat yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar melainkan sekolah sebagai tempat yang tidak menyenangkan karena mereka harus bersaing satu sama lain. Kalau sekolah-sekolah di lingkungan Yayasan Pangudi Luhur terjadi seperti itu, lalu apa bedanya dengan lembaga bimbingan belajar? Hal ini tidak selaras dengan hakikat belajar, hakikat orang yang belajar dan hakikat orang yang mengajar. Dunia pendidikan didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakikat belajar dan pembelajaran yang komprehensif. Praktek pendidikan sangat diwarnai oleh landasan teoritis dan konseptual yang tidak akurat dan tidak menjawab persoalan hidup peserta didik yang sedang dialami dan dijalaninya.


Berikut langkah taktis mencapai konsep pendidikan yang berorientasi pada pribadi manusia sebagai subyek.

Pertama, teacher - pupil planning yaitu kegiatan atau strategi belajar dan pembelajaran direncanakan dan dipilih bersama antara pendidik dan peserta didik, bukannya direncanakan oleh pihak ketiga yaitu pihak penyelenggara pendidikan.

Kedua, cooperative learning yaitu belajar bersama, saling memberi dan menerima namun dengan tujuan masing-masing perserta didik akan saling mengoreksi pemahaman mereka terhadap suatu pengetahuan serta berusaha saling melengkapi dan menghargai satu sama lain.

Ketiga, individual learning and independent learning, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengaktualkan dirinya dengan memilih metode dan isi yang dibutuhkan. Alasan utama dari model ini karena belajar adalah kegiatan individu dan sangat independen. Setiap pribadi tahu betul tentang dirinya sendiri, apa yang menjadi kelemahan dan kelebihannya.

Keempat, group discussion, yaitu memecahkan masalah bersama dalam kelompok, saling mendengarkan pemikiran-pemikiran setiap anggota kelompok, saling menghargai perbedaan pendapat, kerja sama dalam menggali ilmu pemgetahuan, berani mengemukakan pendapat dan mengoreksi pendapatnya sendiri.

Kelima, guru atau pendidik harus tampil sebagai nara sumber, fasilitator, kawan belajar serta pembimbing dalam proses pembelajaran. Pendidik tidak mesti selalu menggurui, menguasai peserta didik. Dengan demikian kelas bukanlah merupakan pusat kegiatan pendidikan (not the center of the class). Guru atau pendidik bukanlah penentu segala kebijakan dan strategi belajar.

Keenam, sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar dan mengembangkan seluruh kemampuan peserta didik, termasuk kemampuan untuk mengekspresikan dan mengaktualkan dirinya. Dengan demikian pendidikan yang benar adalah pendidikan yang bersumber dan berpusat pada pribadi manusia, menjadikan manusia sebagai subyek pendidikan, bukanlah obyek pendidikan itu sendiri.


Bedakan dengan tempat bimbingan belajar yang kental dengan kegiatan kognitif semata. Tidak ada rohnya kecuali bagaimana bisa memenangkan dalam persaingan masuk sekolah-sekolah favorit. Ini yang kemungkinan salah satu hal pemberi kontribusi yang harus diwaspadai agar sekolah-sekolah Pangudi Luhur tidak berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Pangudi Luhur. (wrt)





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.158.214.111 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/