YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Sabtu, 25 November 2017  - 1 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


02.06.2009 07:32:21 2092x dibaca.
ARTIKEL
TAWARAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN YPL (SEBUAH PERMENUNGAN)

Oleh: W.A Danar Suprihasto adalah Guru SMA PL Don Bosko
          Ag. Supriyono adalah mantan Guru SMA PL Don Bosko

Hubungan antara mengajar dan belajar, apa dan bagaimana guru mengajar; serta apa dan bagaimana peserta didik belajar telah lama menjadi topik hangat yang selalu dibicarakan. Secara ekstrim hal ini sering kali dapat dikaitkan dengan pengertian pendidikan secara tradisional dan progresif.


Pendidikan secara tradisional
Secara tradisional pendidikan bermula dari adanya anggapan bahwa tujuan pengajaran adalah untuk meyakinkan bahwa peserta didik menguasai pengetahuan dan serangkaian nilai (values). Baik pengetahuan maupun nilai-nilai dimaknai sebagai cermin pilihan masyarakat mengenai apa yang diinginkan sebagai gambaran masa depan dan memenuhi kebutuhan pasar.                   


Salah satu ciri khas pendidikan dalam pandangan tradisional adalah mengungkapkan kembali apa yang telah diketahui dan dipelajari (recalling). Dengan demikian, hubungan antara pendidik dan peserta didik telah ditentukan. Peserta didik dipandang sebagai seseorang yang belum menguasai dan memahami pengetahuan dan nilai-nilai yang disaratkan dan guru berperan sebagai orang yang memiliki baik pengetahuan maupun nilai-nilai dan berfungsi untuk menyampaikan pengetahuan serta nilai-nilai tersebut kepada peserta didik.       


Dari perspektif relasi kekuasaan, guru menjadi penguasa dan murid menjadi pihak yang dikuasai (Bdk. Foucault 1972). Foucault meneliti dalam arkeologi pengetahuan bahwa subyektivitas diri dikonstruksi oleh aturan main sistem pengetahuan yang sudah mulai dengan wacana. Manusia bukan pencipta makna atau arti bahasa dalam wacana. Tetapi keberadaannya distruktur oleh sistem pengetahuan tertentu yang terungkap dalam wacana. Diri manusia dikonstruksi oleh relasi kekuasaan dalam wacana sejak pemegang tafsir wacana menentukan ia gila atau sehat dalam masyarakatnya. Sistem pengetahuan mengenai siapa sakit, siapa kriminal, siapa sehat dan siapa gila ditentukan dalam wacana itu. Bahkan mereka yang berwenang menentukan makna wacana. Penguasa ini menentukan pula apa itu kebenaran dan menentukan kontrol atas subyektivitas diri manusia. Dalam bingkai pikiran inilah wacana egaliter hanya terjadi ketika relasi kuasa sederajat dalam bersama-sama memaknai dan berposisi egaliter untuk melakukan diskursus tersebut.                                               


Hal ini tercermin dari adanya transfer pengetahuan dan nilai-nilai dari guru ke peserta didik yang membutuhkan peserta didik yang bertingkah laku baik (patuh) dan lingkungan yang disiplin, jika perlu menggunakan sanksi yang tegas bagi para siswa yang melanggar. Dalam hal ini, materi pengajaran, silabus dan kurikulum menjadi alat untuk mengontrol kegiatan belajar-mengajar.    Selanjutnya, apa yang harus dipelajari dapat dituangkan secara lengkap, tahap demi tahap, dari proses awal pendidikan sampai dengan tahap terakhir. Sistem ini juga mensyaratkan apa yang dipelajari akan diuji secara teratur dan tiap-tiap tahapan proses belajar-mengajar dapat dilihat dalam persiapan pengajaran. Hal ini juga mengakibatkan persaingan yang dipandang sebagai cara untuk mendorong peserta didik atau lembaga pendidikan untuk tetap berjuang guna meningkatkan performa mereka dalam hubungan dengan orang lain. Masih diberlakukannya sistem Ujian Nasional (UN) merupakan contoh konkrit dari sistem yang masih tradisional dalam dunia pendidikan nasional kita. Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Louis Althusser mengenai teori konstruksi terbentuknya diri oleh bangunan ideologi sebagai sistem makna yang menerangkan kenyataan dan membuat realitas bisa dipahami.                       


Althusser menunjukkan bahwa pemberi dan penentu makna yang mengajari masyarakat untuk dan berelasi sosial adalah kelas penguasa yang memiliki kekuasaan hegemoni tafsir makna dan tafsir hubungan antar anggota. Tafsir hegemoni ini disemburkan dalam anggota masyarakat lewat media massa, saluran penerangan hingga menjadi kesadaran masyarakat yang ideologis semu palsu. Mengapa? Masyarakat mengira itu adalah kesadarannya padahal kesadaran palsu hasil manipulasi ideologis kelas pemilik tafsiran dan hegemoni arti.


Kesadaran palsu ideologis ini dilanggengkan lewat lembaga-lembaga pendidikan, birokrasi, aparat keamanan, propaganda media massa yang membentuk terus-menerus kesadaran warga hingga sama dengan kesadaran penguasa pemilik tafsir makna. Ini sebabnya kesadaran seolah-olah demokratis padahal semu dan palsu. Bisa awet abadi karena pusat pikiran alternatif dalam mengkonstruksi sendiri makna dibungkam.


Pendidikan secara progresif

Cara pandang yang berbeda, secara umum digambarkan sebagai progresif atau berpusat pada peserta didik. Cara pandang ini bermula dari pemahaman bahwa peserta didik sudah memiliki pemahaman mengenai realita yang ada. Paul Suparno, S.J (1997) mengungkapkan bahwa belajar merupakan proses mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman alami maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini merupakan proses yang aktif. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dimiliki, kemampuan kognitif dan lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar.                            


Menurut pandangan kaum konstruksivisme, mengajar adalah proses membantu seseorang untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Mengajar bukanlah proses mentransfer pengetahuan dari guru ke peserta didik, melainkan membantu seseorang agar dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat kegiatannya terhadap fenomen dan objek yang ingin diketahui. Dalam hal ini penyediaan prasarana dan situasi yang memungkinkan dialog secara kritis perlu dikembangkan.            


Sehubungan dengan nilai (value) pendekatan ini membutuhkan jiwa besar dan kejujuran seorang guru untuk mengakui jika ia tidak tahu dan memberi penghargaan kepada peserta didik yang tahu. Implikasi dari relasi kekuasaan yang tercipta dalam proses belajar-mengajar adalah relasi yang setara, karena guru bukanlah seseorang yang maha tahu dan murid bukanlah seseorang yang belum tahu dan harus diberitahu. Dalam banyak hal, guru dan murid bersama-sama membangun pengetahuan. Dengan demikian, lingkungan yang disiplin bukanlah dipaksakan, melainkan merupakan konsekuensi logis dari sebuah proses.
Nilai-nilai sosial seperti kerja sama lebih ditekankan alih-alih bersaing dengan sesama teman.


Berbeda dengan bentuk pendidikan tradisional, dengan anak-anak yang hadir ke sekolah, bentuk pendidikan progresif memungkinkan seorang peserta didik untuk berkonflik dengan temannya, namun mereka diajari bukan untuk lari dari masalah, mengalah ataupun menang sendiri melainkan menyelesaikan masalah dengan sikap dewasa. Dengan mengalami kegagalan, seorang siswa menempatkan dirinya sebagai pribadi yang sedang belajar, sehingga kesalahan atau kegagalan dianggap sebagai proses pembelajaran.


Otokritik atas pendidikan YPL

Dalam suatu pertemuan guru-guru YPL, ada pertanyaan menggelitik yang patut kita renungkan : apakah yang membedakan pendidikan PL dengan pendidikan yang ditawarkan oleh yayasan lainnya? Secara khusus, pertanyaan ini berbunyi : manakah nilai-nilai yang ditawarkan dalam pendidikan di sekolah-sekolah Yayasan Pangudi Luhur? Dalam era globalisasi pendidikan, sekolah-sekolah dalam lingkungan YPL dituntut mereposisi peran dan strategi pendidikannya, bukan lagi zamannya untuk bernaung di bawah nama besar Pangudi Luhur. Pesaing sekolah PL semakin banyak dengan tawaran yang beragam. Dari sekolah yang lokal sampai sekolah internasional hadir di sekitar sekolah-sekolah PL. Secara khusus, hal ini berarti pendidikan ala kepangudiluhuran mendapatkan pesaing. Dalam perspektif pendidikan progresif seperti yang ditawarkan di atas, apakah pendidikan di YPL menawarkan :

1. Nilai-nilai humanisme yang menem¬patkan peserta didik sebagai subjek
Langkah yang dapat ditempuh adalah menjadikan se¬kolah sebagai “tempat berteduh” dari kehidupan dunia. Sekolah memposisikan sebagai The second home bagi para siswa. Suasana ini mengandaikan bahwa peserta didik belajar untuk hidup bersama dalam kelompok dan untuk diperlakukan sama. Tidak ada lagi istilah guru sebagai otoritas yang serba tahu, khususnya knowledge.

2. He Hidden Curriculum
Pendidikan progresif mengandaikan bahwa keberhasi¬lan pendidikan tidak hanya tergantung pada kurikulum dan perangkatnya yang dirumuskan dengan baik na¬mun juga ditentukan oleh kurikulum tersamar. Menurut Kohlberg, kurikulum tersamar adalah segala perkataan, tingkah laku, suasana pembelajaran yang tidak disengaja atau dibuat-buat dan dilihat, direkam oleh siswa. Guru dalam pendidikan adalah kurikulum yang efektif untuk para siswa. Apa pun yang dilakukan guru, cara berpa¬kaian, cara bicara, sikap terhadap guru lain merupakan kurikulum bagi siswa. Semua itu akan membentuk sikap dan kepribadiannya, membentuk persepsi terhadap ling¬kungan masyarakatnya, kemudian merespon, dan mem¬pengaruhi tumbuh-kembangnya.
Secara sederhana sebenarnya pendidikan bagi siswa adalah apa yang dia lihat, dia dengar, dia rasakan, dia alami, setiap detik, sepanjang hari sepanjang tahun. Hal-hal inilah yang akan membentuk karakter dan kepriba¬diannya. Tugas kita adalah memfasilitasi agar apa yang dia dengar, dia lihat, dia rasakan dan dia alami adalah hal-hal yang positif semata. Sudahkah sekolah-sekolah PL mewujudkannya?


  





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 54.158.214.111 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/