YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Minggu, 28 Mei 2017  - 4 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


20.02.2017 12:40:25 262x dibaca.
BERITA
Kegiatan Karya Ilmiah Matematika bagi Siswa Sekolah Menengah

Dinamika

 

Menggagas Karya Ilmiah Matematika

bagi Siswa Sekolah Menengah

Oleh : Yakobus Dwi Wahyuono, S.Pd.*)

 

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, permasalahan dalam kehidupan sehari-hari semakin kompleks terutama dalam ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA).Untuk itu diperlukan perhitungan yang baik dalam menentukan jumlah yang dibutuhkan. Hal ini penting agar tidak ada sumber daya alam yang terbuang percuma. Di sinilah ilmu matematika sangat penting diterapkan sebagai suatu solusi pemecahan masalah nyata yang terjadi.

Sayangnya, hal di atas tidak mendapat respons yang baik oleh siswa dalam dunia pendidikan. Salah satu penyebabnya, mereka mempunyai pengalaman yang kurang baik dengan matematika. Di samping  itu, masyarakat memiliki persepsi kurang pas terhadap matematika. Sikap dan persepsi terhadap matematika tersebut muncul karena pemikiran yang kurang tepat terhadap matematika. Pemikiran itu diantaranya  : matematika memerlukan kecerdasan yang tinggi, matematika adalah ilmu berhitung, matematika hanya menggunakan otak, dalam mengerjakan soal, matematika yang paling penting adalah jawaban yang benar, kebenaran dalam matematika bersifat mutlak dan matematika tidak berguna dalam kehidupan nyata.

Selain faktor di atas, pembelajaran matematika di sekolah terutama dalam penyajian permasalahan matematika sering menggunakan bahasa yang cukup asing bagi siswa. Fakta tersebut menambah berat pemahaman mereka terhadap matematika. Proses abstraksi yang dipaksakan dengan kurangnya menyentuh masalah-masalah di sekitar kehidupan siswa semakin menambah daftar panjang penyebab keengganan siswa dalam belajar matematika. Hal itu semakin membenarkan anggapan bahwa matematika tidak berguna bagi kehidupan. Pembelajaran di kelas semakin tidak menarik karena guru hanya menyajikan lambang-lambang dan angka-angka. Kalaupun ada soal cerita,  permasalahan yang diangkat bukan permasalahan yang dekat dengan siswa melainkan hanya menyesuaikan yang ada di buku yang tidak tahu buatan siapa.  

Proses pembelajaran matematika yang terjadi saat ini juga cenderung terlalu kering, teoritis, kurang kontekstual, dan bersifat semu. Pembelajaran pun kurang bervariasi, sehingga mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari matematika lebih lanjut. Pengajaran matematika di sekolah terlalu bersifat formal sehingga matematika yang ditemukan anak dalam kehidupan sehari-hari sangat berbeda dengan apa yang mereka temukan di sekolah.

Untuk  menjawab permasalahan nyata yang real terjadi di masyarakat terutama yang membutuhkan perhitungan matematika sebagai solusi pemecahan dalam setiap masalah yang ada, perlu ditumbuhkan kompetensi keterampilan dalam bermatematika kepada siswa sejak dini. Hal ini akan membuat siswa menjadi lebih paham akan penggunaan matematika sebagai suatu alat yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pemodelan Matematika

Salah satu jawaban dari masalah di atas adalah pemodelan matematika. Pemodelan matematika merupakan salah satu aktivitas matematika yang mempunyai kaitan yang sangat erat dalam dunia nyata. Tujuan adanya pemodelan matematika adalah sebagai suatu model atau solusi untuk menjawab masalah nyata. Pembelajaran menggunakan Pemodelan Matematika merupakan suatu terobosan di mana siswa dituntut dapat menentukan solusi dari permasalahan yang mereka ketahui, tentunya yang berhubungan dengan dunia nyata.

Apabila siswa dapat memodelkan suatu masalah matematika ada banyak hal yang di dapat di antaranya: (1) Siswa paham betul masalah yang sedang terjadi (2) Siswa mengetahui pemahaman apa saja yang telah mereka miliki untuk dapat menyelesaikan permasalahan matematika (3) Cara pikir mereka menjadi logis karena inti dari pemodelan matematika yaitu model yang mereka buat dapat menjawab masalah yang terjadi. (4) Pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna.

Dari pemaparan di atas, kita menjadi lebih memahami betapa pentingnya pembelajaran menggunakan pemodelan matematika. Pemodelan matematika sebagai dasar untuk siswa dalam memahami pentingnya matematika bagi mereka. Pemodelan juga dapat dimaknai sebagai aplikasi matematika itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi siswa.

 

Pentingnya Karya Ilmiah bidang Matematika

Memang ada baiknya pembelajaran tidak hanya berhenti pada pemodelan saja. Pembelajaran matematika dapat dilanjutkan hingga menjadi suatu karya ilmiah siswa. Karya ilmiah merupakan suatu karya dalam bidang ilmu pengetahuan (science) dan teknologi yang berbentuk ilmiah. Suatu karya dapat dikatakan ilmiah apabila proses perwujudannya lewat metode ilmiah. Karya ilmiah ini dipercaya merupakan salah satu solusi dalam melakukan pembelajaran bermakna. Salah satu hasil pembelajaran yang bermakna adalah siswa dapat menemukan solusi dari permasalahan nyata yang ada di sekitar mereka.

Masih sedikitnya karya ilmiah terutama dalam bidang matematika dapat dijadikan alasan tepat untuk perlu menggagas langkah-langkah dalam pendampingannya bagi siswa.Dalam karya ilmiah bidang matematika siswa perlu berksperimen.Hal tersebut untuk mengembangkan kompetensi dan keterampilan mereka sekaligus menjawab bahwa matematika sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. 

Selain itu ada beberapa dugaan mengapa karya ilmiah terutama dalam bidang matematika sepi. Salah satunya adalah kurangnya kemampuan guru dalam mengajarkan pada siswa untuk membuat hasil karya seperti karya ilmiah.Hal ini menyebabkan karya ilmiah bidang matematika dianggap sulit bagi siswa.

Hasil dari LIPI/Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Pikiran Rakyat Online, 2012) menunjukkan hasil karya ilmiah guru SMP terutama dalam bidang matematika berjumlah 5 karya. Jika dibandingkan dengan Jepang (Murni Ramli, 2012) sebagian besar sekolah-sekolah di Jepang sudah menerapkan pembelajaran berbasis riset sehingga guru dan siswa sebagai motor utama dalam pengembangan riset sudah dibekali dengan kemampuan dasar dan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan dalam melakukan riset penelitian dan menghasilkan sebuah karya ilmiah. Sedangkan di Indonesia sekolah yang sudah menobatkan diri sebagai sekolah riset baru SMA 6 Yogyakarta.

Ke depannya guru-guru di Indonesia dituntut untuk dapat membuat karya ilmiah dalam bidang matematika (Marjiyem, 2015) sehingga dengan pengalaman itu siswa juga dapat diajarkan bagaimana membuat karya ilmiah.

Masalah yang kemudian muncul adalah bagaimana melakukan pendekatan ke siswa untuk membuat karya ilmiah ? Bagaimana membuat dinamika dan menjalankan dinamika dalam membuat karya ilmiah bagi siswa sekolah menengah?

 

Langkah-langkah

Tahap 1. Penyesuaian

Bentuk kegiatannya : (1) Siswa diajak menemukan permasalahan pada lingkungan sekitar. Siswa diajak ke luar kelas dan melihat langsung kemungkinan-kemungkinan fenomena dunia nyata atau siswa dipancing dengan gambar-gambar atau foto-foto yang sudah disiapkan. Selain itu media lain seperti tayangan video, atau berita di surat kabar pun dapat digunakan sebagai sarana siswa merumuskan pertanyaan atau permasalahan. (2) Siswa diajak menuliskan sebanyak mungkin pernyataan yang dapat ditangkap oleh indra mereka dan difokuskan pernyataan yang berkaitan dengan matematika. (3) Siswa diajak mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan dari fenomena yang mereka hadapi yang dapat ditangkap oleh indra. (4)  Siswa diajak mengungkapkan pernyataan dan mengajukan pertanyaan bukan hanya yang dapat dilihat oleh mata tapi dapat juga dikombinasikan dengan pengalaman mereka.

Pada setiap akhir pertemuan, apa yang mereka dapatkan didiskusikan bersama teman dalam kelompok dan juga dalam satu kelas, guna melihat sejauh mana kreativitas mereka dalam melihat dan merumuskan pertanyaan.

 

Tahap 2. Merumuskan Masalah

Tahap ini dimaksudkan untuk membuat pertanyaan-pertanyaan ataupun permasalahan yang diperoleh pada tahap pertama semakin mengerucut pada suatu permasalahan yang nantinya akan diselesaikan. Tahap inipun bukan hanya satu kali pertemuan. Pada tahap ini pendampingan guru sangat penting agar siswa dapat mengerucutkan pada permasalahan yang kompleks dan memerlukan langkah lanjut untuk penyelesaiannya.

Bentuk kegiatannya : (1)  Dari pertanyaan –pertanyaan yang muncul siswa diajak memilah pertanyaan mana yang ada kaitannya dengan matematika atau dapat diselesaikan secara matematika. (2) Siswa diajak memilih permasalahan dan merumuskan masalah yang akan difokuskan untuk dicari jawabannya.

Pada setiap akhir pertemuan dimungkinkan pula dilakukan diskusi untuk dapat lebih mendalami permasalahan yang akan diselesaikan, alat-alat matematika apa yang diperlukan yang tentu saja disesuaikan dengan kemampuan siswa.

 

Tahap 3. Merencanakan kegiatan menjawab-menyelesaikan permasalahan

Pada tahap ini siswa diajak menentukan langkah-langkah penyelesaian masalah, menentukan alat-alat matematika yang diperlukan, waktu pelaksanaan kegiatan jika memerlukan suatu percobaan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Pendampingan guru di sini diperlukan untuk memberi pengetahuan tentang alat-alat matematika yang diperlukan untuk menjawab permasalahan.

Bentuk kegiatannya: (1) Siswa diajak untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan solusi dari masalah yang sudah ditentukan pada langkah sebelumnya. (2) Siswa diajak membuat perencanaan bagaimana menjawab permasalahan yang ada.

 

Tahap 4. Melaksanakan kegiatan menjawab atau menyelesaikan masalah

Pada tahap ini siswa melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan. Bentuk kegiatannya (1) Siswa diajak melaksanakan rancangan kegiatan yang sudah mereka rencanakan. (2) Siswa mencatat semua hasil (sebagai data) pengamatan selama melaksanakan kegiatan.

 

Tahap 5. Menyusun Laporan

Tahap ini dilakukan untuk memberi kesempatan siswa membuat laporan, yang tentu saja sedikit diberi pengantar tentang macam-macam laporan yang dapat mereka sajikan, setelah itu siswa diberi kebebasan untuk memilih model laporan seperti apa yang akan mereka buat.

Bentuk kegiatannya : (1) Siswa diajak mengolah data yang mereka peroleh. (2)

Siswa diajak menganalisis hasil olah data. (2) Siswa diajak membuat kesimpulan dari hasil olah data tersebut. (3) Siswa diajak membuat laporan dari semua rangkaian kegiatan.

Hasil yang diharapkan dari siswa : (1) Siswa dapat merumuskan masalah berupa pertanyaan dari masalah nyata yang mereka lihat ataupun masalah yang sudah disajikan dalam bentuk gambar atau foto, video, alam sekitar, berita surat kabar (2) Siswa dapat menemukan kemungkinan-kemungkinan langkah dari kegiatan yang akan direncanakan untuk menjawab permasalahan yang ada. (3) Siswa dapat membuat rencana kegiatan untuk menjawab permasalahan yang ada. (4) Siswa dapat melaksanakan kegiatan yang sudah dirancang.(5) Siswa dapat mengolah hasil kegiatan dan melaporkannya.

            Gagasan ini bukan membatasi kreativitas guru. Minimal yang diharapkan guru mempunyai acuan dasar untuk mendampingi siswa dalam membuat karya ilmiah bidang matematika yang masih langka. Hasil merupakan dinamika dari pendampingan guru sendiri.

Selamat mencoba

*) Guru Matematika SMP Pangudi Luhur Srumbung

 








^:^ : IP 54.146.5.196 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2017  http://www.pangudiluhur.org/