YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Selasa, 11 Desember 2018  - 2 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


04.04.2011 02:27:04 13817x dibaca.
BERITA
Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Oleh : Anna Sri Marlupi, S.S.*

“Ma, selawe ewu itu berapa rupiah?” Itu adalah pertanyaan anak saya sewaktu saya melakukan tawar-menawar harga daging ayam di pasar tradisional. Ocehan kanak-kanak tersebut tidak bisa dianggap remeh. Tanpa adanya pembelajaran bahasa daerah secara intensif di sekolah dan pembiasaan di lingkungan masyarakat, mungkin pada masa mendatang generasi muda kita merasa terasing dengan kebudayaannya sendiri.

Sebagai guru, saya sudah melihat gejala dekulturasi atau pemudaran budaya lokal dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah dalam pola pemberian nama. Nama-nama siswa dalam daftar nilai didominasi nama asing yang terkesan modern. Bahkan ada siswa yang malu dengan namanya sendiri yang khas dengan nama Jawa karena menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Para siswa juga lebih hapal lagu-lagu pop modern dan lagu-lagu Barat dibandingkan dengan lagu-lagu daerah. Kenyataan semacam itu tentu memprihatinkan. Setelah batik, reog, lagu Rasa Sayange, dan tari Pendet “dianggap milik Malaysia”, bukan tidak mungkin, suatu saat akan semakin banyak kearifan lokal milik kita yang diklaim budaya milik negara tetangga.

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Sebelum membahas tentang pendidikan berbasis kearifan lokal, ada baiknya kita lihat dulu maknanya. Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu dekat dengan situasi konkrit yang mereka hadapi sehari-hari. Model pendidikan berbasis kearifan lokal merupakan sebuah contoh pendidikan yang mempunyai relevansi tinggi bagi kecakapan pengembangan hidup, dengan berpijak pada pemberdayaan ketrampilan serta potensi lokal pada tiap-tiap daerah.

Kearifan lokal milik kita sangat banyak dan beraneka ragam karena Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa, berbicara dalam aneka bahasa daerah, serta menjalankan ritual adat istiadat yang berbeda-beda pula. Kehadiran pendatang dari luar seperti etnis Tionghoa, Arab dan India semakin memperkaya kemajemukan kearifan lokal.

Pendidikan berbasis kearifan lokal dapat digunakan sebagai media untuk melestarikan potensi masing-masing daerah. Kearifan lokal harus dikembangkan dari potensi daerah. Potensi daerah merupakan potensi sumber daya spesifik yang dimiliki suatu daerah tertentu. Salah satu contohnya, potensi Kota Semarang yang cukup dominan dan dikenal luas adalah warisan kuliner seperti lumpia, bandeng presto dan wingko babat. Semarang juga dikenal luas karena memiliki kesenian tradisi Gambang Semarang, Dhugdheran dan arak-arakan Warak Ngendhog.

Lembaga pendidikan formal termasuk sekolah-sekolah dalam lingkup Yayasan Pangudi Luhur dapat melakukan sejumlah upaya dan program agar potensi tersebut dapat diangkat menjadi keunggulan lokal untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata. Sekolah-sekolah Pangudi Luhur di Semarang dapat melakukan pengembangan seni Gambang Semarang melalui kegiatan ekstrakurikuler, pelestarian warisan kuliner melalui pelajaran tata boga dan pembiasaan bahasa daerah melalu pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal. Pelatihan dan pembiasaan melalui bimbingan guru serta orang tua sangat berperan dalam melestarikan kearifan lokal.

Kearifan Lokal di Sekolah

Para siswa yang datang ke sekolah tidak bisa diibaratkan sebagai sebuah gelas kosong, yang bisa diisi dengan mudah. Siswa tidak seperti plastisin yang bisa dibentuk sesuai keinginan guru. Mereka sudah membawa nilai-nilai budaya yang dibawa dari lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Guru yang bijaksana harus dapat menyelipkan nila-nilai kearifan lokal merka dalam proses pembelajaran.

Bagi guru Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa, Anda dapat menugaskan para siswa untuk membuat karangan tentang potensi Wisata Kota Lama Smarang. Bagi guru Sejarah, Anda dapat menugaskan para siswa untuk membuat laporan tentang sejarah tradisi Warak Ngendhog dan Dhugdheran dalam bentuk power point. Bagi guru Seni Rupa, Anda dapat mengajarkan bagaimana cara menggambat rumah serotongan, limasan dan joglo khas semarangan. Bagi guru Matematika, Anda pun dapat mengenalkan bentuk-bentuk geometris kepada para siswa melalui bentuk atap rumah adat. Hal-hal serupa juga dapat diterapkan oleh para guru untuk mata pelajaran-mata pelajaran yang lain.

Metoda lain yang dapat dipraktekkan adalah lewat kegiatan bercerita atau mendongeng, dengan menyertakan gambar, foto, boneka, iringan musik, miniatur rumah adat, gestik dan pembawaan guru yang menarik. Cara semacam ini sangat efektif untuk mendidik siswa di tingkat Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.

Pendidikan berbasis kearifan lokal tentu akan berhasil apabila guru memahami wawasan kearifan lokal itu sendiri. Guru yang kurang memahami makna kearifan lokal, cenderung kurang sensitif terhadap kemajemukan budaya setempat. Hambatan lain yang biasanya muncul adalah guru yang mengalami lack of skill. Akibatnya, mereka kurang mampu menciptakan pembelajaran yang menghargai keragaman budaya daerah.

Solusi yang paling tepat, tentu saja dengan memudahkan para guru untuk memperoleh informasi akurat dari media cetak dan media elektronik. Sekolah dapat melakukannya dengan menyediakan buku-buku rujukan, kaset VCD edukatif, majalah, tabloid dan surat kabar terbaru secara rutin di perpustakaan. Sekolah juga dapat menugaskan guru untuk berpartisipasi aktif sebagai peserta dalam pelatihan, seminar dan lokakarya tentang kearifan lokal.

Para guru yang sudah mampu mendapatkan informasi secara cepat dari internet, pasti lebih aktif dalam penanaman kearifan lokal di ruang kelas. Akan lebih baik apabila guru menyebarkan “virus-virus cinta kearifan lokal” dengan rajin berbagi pengalaman, misalnya menulis di majalah, koran, maupun blog milik unit kerja masing-masing. Bahkan jika kemampuan sudah memungkinkan, guru dapat berbicara dalam seminar-seminar skala lokal maupun tingkat nasional. Peran aktif guru semacam itu bakan sanggup memotivasi rekan-rekan sekerja untuk mempraktekkannya.

Satu kegiatan terpenting yang harus segera dilakukan adalah memulai. Kegiatan awal ini tidak mudah, karena sebagai ujung tombak pembaharuan, guru harus bernai melawan rasa malas, jenuh dan keengganan untuk berubah. Perubahan harus dimulai sekarang, karena kearifan lokal sudah mulai dilupakan. Kiat harus belajar banyak dari bangsa Jepang yang tetap menjunjung tinggi kearifan lokal, sekalipun mereka sudah menguasai teknologi modern. Mencintai kearifan lokal, bukan berati ketinggalan zaman. Jadi, tunggu apa lagi? Mari, guru-guru Yayasan Pangudi Luhur, segera saja lakukan pendidikan berbasis kearifan lokal di unit kerja Anda!

* ) Berkarya di SMA PL Don Bosko Semarang








^:^ : IP 54.159.51.118 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2018  http://www.pangudiluhur.org/