YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Kamis, 27 Juni 2019  - 2 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


29.03.2019 13:10:44 205x dibaca.
BERITA
Penerapan Self-Instruction Training untuk Meningkatkan Kontrol Diri Anak

(Best Practices : Kumpulan Pengalaman Guru dan Kepala Sekolah Yayasan Pangudi Luhur)

 

A. Latar Belakang Masalah

Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat berharga dalam proses perkembangan kepribadian seseorang. Penanaman nilai-nilai yang baik pada masa ini menjadi bekal kehidupan yang penting dan mendasar. Masa keemasan atau yang lebih dikenal dengan istilah Golden Age berada dalam rentang usia 0-6 tahun. Seorang anak di usia emas sangat peka terhadap segala hal yang terjadi dalam lingkungannya, sehingga usia ini ada pula yang menyebutnya sebagai usia kritis. Segala sesuatu yang dilihat dan didengar dapat terekam di dalam otak dan tersimpan di memori anak.

Usia emas seorang manusia hanya terjadi sekali dalam seumur hidup dan menjadi penting karena keberhasilan atau kegagalan dalam mengatasi tugas-tugas perkembangan di masa ini akan memengaruhi tahapan perkembangan di masa selanjutnya. Kehadiran, pendampingan dan kasih sayang orang dewasa di sekitar sangat berperan penting pada masa keemasan. “Children see, children do”, ungkapan ini benar adanya. Anak-anak cenderung melakukan sesuatu hal seperti yang sering mereka lihat ataupun dengar. Jika anak diperlakukan dengan baik maka yang terekam adalah kebaikan. Jika anak menerima didikan yang keras atau kasar dari kesehariannya maka itu pula yang terekam dalam memorinya dan akan mewarnai kehidupannya kelak.

Kehidupan keseharian yang terjadi baik di dunia nyata, dalam keluarga dan lingkungan, maupun yang disajikan melalui media televisi, tak jarang turut memengaruhi kegagalan anak-anak dalam menampilkan perilaku-perilaku yang baik. Tak sedikit anak-anak mulai menunjukkan perilaku destruktif (tindakan melanggar norma) di sekolah yang tampak dalam perilaku dan sikap kasar, menentang, tidak suka, menolak ataupun membantah keinginan guru.

 B. Permasalahan

Terabaikannya masa keemasan sehingga beberapa anak TK menunjukkan perilaku destruktif di sekolah, seperti: mengejek, mengumpat, mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke muka anak lain, menyerang dan merusak yang berlebihan, merebut mainan, mendorong dan menyingkirkan anak lain yang sedang bermain, memukul dan melukai anak lain demi merebut barang miliknya, meludahi muka anak lain.

 C. Strategi Pemecahan Masalah

Penulis memilih metode Self-Instruction Training untuk penyelesaian masalah perilaku yang muncul di sekolah atau di dalam kelas. Melalui metode ini anak-anak belajar melatih dirinya sendiri dengan cara berbicara kepada diri sendiri bahwa mereka bisa berbuat baik.

Adapun tahapan operasional pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

1. Segera memberikan perlakuan terhadap anak yang baru saja melakukan perilaku destruktif (segera berarti tidak menunda pemberian perlakuan)

2. Posisikan diri pendidik sejajar anak dengan cara berlutut

3. Tatap mata anak dalam-dalam, tanpa bicara dulu untuk beberapa saat (kurang lebih 5 detik) Hal ini baik untuk menetralkan emosi pendidik.

4. Beritahukanlah ke anak dengan nada tegas, tidak marah atau berteriak: “Jaga tanganmu!” “Jaga kakimu!” “Jaga mulutmu!”

5. Ajak anak untuk mengingat fungsi anggota tubuh ciptaan Tuhan “Tangan untuk apa? Kaki untuk apa? Mulut untuk apa?”

6. Bantu anak untuk mengevaluasi perilaku yang baru saja dia lakukan. “Tadi ... (sebut nama) ngapain? Apakah itu baik? Apakah itu boleh? Apakah itu benar?”

7. Pendidik lalu menegaskan kepada anak bahwa perilaku yang baru saja dia lakukan adalah tidak benar, bahwa untuk fungsi tertentukah anggota tubuh diciptakan Tuhan, bukan yang lainnya.

8. Melatih anak untuk mengucapkan Self-Instruction Training (tiga sampai lima kali): “Tanganku harus baik!” “Kakiku harus baik!” “Mulutku harus baik!” “Aku bisa duduk tenang!” “Aku bisa antre!” “Aku bisa baris dengan rapi!”

9. Setelah anak berlatih mengucapkan pada dirinya sendiri untuk bisa bersikap baik, pendidik mengajak anak toss sebagai simbol kesepakatan bersama.

 D. Alternatif Pengembangan

Self-Instruction Training sangat efektif untuk memperbaiki perilaku. Metode ini dapat diterapkan di jenjang SD, SMP maupun SMA. Pendidik yang akan melaksanakan metode ini hendaknya mampu bersikap tegas dan konsisten karena hal tersebut akan sangat memengaruhi perubahan perilaku anak. Self-Instruction Training baik jika bisa dilakukan setiap hari, setiap saat ketika perilaku destruktif muncul karena akan dapat menunjukkan hasil perubahan perilaku yang cukup efektif. Apabila seorang pendidik ingin mencoba menggunakan metode ini baik jika melakukan observasi terlebih dahulu terhadap anak yang destruktif. Perlakuan yang diberikan seorang pendidik yang sudah mempunyai karakter cukup tegas dan konsisten hendaknya diimbaskan kepada pendidik lain supaya anak dengan perilaku destruktif mendapat perlakuan sama dari pendidik di sekolahnya. Pendidik dapat juga berdiskusi dengan orangtua supaya orangtua di rumah juga memberikan perlakuan yang sama sehingga perubahan perilaku menjadi lebih signifikan.

 E. Kesimpulan

Self-Instruction Training yang dilakukan secara konsisten di berbagai situasi dapat membantu anak-anak dalam meningkatkan kontrol diri terhadap perilaku mereka sendiri. Dengan self-instruction, anak-anak belajar untuk mengontrol perilaku mereka tanpa orang lain harus memberi tahu mereka berulang kali tentang apa yang baik atau tidak baik, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Anak anak di masa keemasan ini akan belajar untuk merasakan kehangatan orang dewasa di sekitarnya yang memberi tahu mereka dengan sabar dan menunjukkan cara memperbaiki kesalahan mereka tanpa harus berteriak maupun marah.

 F. Rumusan Rekomendasi Operasional

Pendidik yang akan menerapkan metode Self-Instruction Training kepada anak didiknya perlu mempersiapkan diri dan situasi sekitar supaya hasil yang dicapai menjadi maksimal:

1. Karakter pendidik harus tegas dan konsisten.

2. Segera memberikan perlakuan terhadap anak, sesaat setelah anak menunjukkan perilaku destruktif.

3. Berbicara ke anak dengan nada tegas, tidak marah atau berteriak.

4. Melatih anak untuk mengucapkan Self-Instruction Training: “Tanganku harus baik!” “Kakiku harus baik!” “Mulutku harus baik!” “Aku bisa duduk tenang.” “Aku bisa antre.” “Aku bisa baris dengan rapi.”

5. Memberikan pengakuan dan penerimaan terhadap keberhasilan anak dalam usaha mereka untuk berjanji menjadi anak yang lebih baik.

 

Regina Dwi Rahayuningsih, S.Psi

Kepala TK Pangudi Luhur Don Bosko Semarang








^:^ : IP 34.204.36.101 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2019  http://www.pangudiluhur.org/