YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Sabtu, 19 September 2020  - 4 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


27.08.2020 14:35:19 88x dibaca.
BERITA
Sejahtera itu Ada Dalam Hati Manusia oleh : Br. Elwin Z, FIC

Kesejahteraan merupakan topik yang tidak pernah habis diulas, diperbincangkan atau dituntaskan. Konsep atau arti dari kesejahteraan bagi setiap orang berbeda.  Kesejahteraan dipengaruhi oleh cara pikir, cara tindak dan respons setiap individu.

Beberapa tahun ini, aspek kesejahteraan menjadi topik menarik.  Khususnya dengan adanya program pemerintah bagi para guru baik sebagai ASN (Aparatur Negeri Sipil) dan Swasta yakni sertifikasi. Segala usaha diusahakan oleh para pendidik untuk segera memenuhi segala persyaratan demi mendapatkan sertifikasi, alih-alih sertifikasi sebagai modal untuk menambah kesejahteraan.  Namun yang menjadi pertanyaan besar, benarkah setelah mendapatkan dana sertifikasi, kesejahteraan guru semakin baik atau sebaliknya?

Maksud dari  dana sertifikasi agar guru semakin sejahtera sehingga loyal dalam mendidik, mengajar dan mendampingi generasi muda. Tetapi, realitas yang ada, dengan adanya sertifikasi tidak semua guru merasa sejahtera bahkan semakin merasa kurang. Beberapa guru dengan alasan untuk semakin menambah penghasilan membuka bisnis mini yang dilakukan seirama dengan profesinya sebagai guru. Mengapa hal ini terjadi ? Karena yang dicari adalah uang/materi sehingga terkadang fokus menjadi pendidik semakin luntur. Menjadi guru bukan lagi untuk pengabdian melainkan untuk mencari keuntungan atau memburu harta duniawi. Dengan kata lain dana sertifikasi dari pemerintah bukan solusi kesejahteraan.  Alasan mengapa dana sertifikasi tidak menjadi solusi kesejahteraan karena kebutuhan manusia itu sebenarnya tak terbatas  termasuk guru.  Prinsip kebutuhan itu adalah ketika kebutuhan yang satu dapat terpenuhi, pasti tuntutan untuk memenuhi kebutuhan yang lain pun juga menuntut.

Jika kita bertitik tolak pada UU No 20  Tahun 2003 tentang guru dan dosen, masalah kesejahteraan pun tidak ditampilkan secara jelas (Pasal 1 ayat 16). Dengan kata lain, ukuran penghasilan guru  yang layak menjadi sangat subjektif. Artinya, tergantung pada seberapa besar mindset seorang guru dan dosen untuk melihat tingkat kesejahteraan yang mampu dihayati dengan penghasilan/gaji yang diterima.

Mahatma Gandhi seorang tokoh Hindu  India pernah berkata, “ Seluruh hasil bumi di dunia ini cukup untuk menghidupi semua manusia, tetapi tidak cukup untuk seorang manusia yang serakah”. Artinya, seseorang itu sejahtera atau tidak, ditentukan oleh sikap orang itu sendiri, maukah ia bersyukur pada apa yang sudah dimiliki?

Pernyataan Mahatma Gandhi ini menjadi bahan refleksi dan ajakan untuk manusia,dalam hal ini guru, untuk tahu diri. Hidup sejahtera memang ada hubungannya dengan hidup bahagia. Namun bukan sebagai kepercayaan absolut. Pada akhirnya yang ada adalah tuntutan kesejahteraan harus sesuai dengan kebutuhan hidupnya bukan pemenuhan keinginannya. “Jika ingin melihat lebih dalam, sebenarnya hidup sejahtera itu ada dalam hati manusia, dan ia adalah milik orang yang pandai bersyukur.” Hati merupakan salah satu pusat hidup manusia. Jika hati manusia selalu bersyukur, bergembira dan bahagia, maka dapat dipastikan akan hidup sejahtera.

 Getulio Vargas, seorang Presiden Brasil,  akhirnya menembak jantungnya sendiri karena ternyata kekuasaan dan jabatan tidak menjamin kesejahteraannya. Ironis bukan? Jika dilihat dari materi, seorang  presiden sudah pasti hidupnya sejahtera. Apabila diposisikan dari kekuasaan, tidak ada diskusi bahwa seorang Presiden sudah mesti pribadi yang memiliki kuasa, tetapi mengapa akhirnya Presiden ini mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan? Jawabannya, tak lain dan tak bukan adalah kesejahateraan materi, jabatan yang dipunyai tidak menjamin hati yang selalu bersyukur.

Baik pula bila kita mengingat apa yang pernah dinasehatkan oleh Muhammad Hatta, ketika ia hadir untuk merayakan usia 30 tahun, Taman Siswa tahun 1952. Ia mengatakan, “Kehormatan seorang guru bukan terletak pada besar-kecilnya gaji”. Karena selama negara belum sejahtera, hendaklah guru tetap hidup sederhana, dan tetap memberikan teladan bagi masyarakat dan peserta didiknya. Sebagai seorang guru baik apabila nasihat ini menjadi pedoman. Maka kesejahteraan itu bukan terletak pada kepenuhan materi, namun pada hati. Demikian pula nasehat Rabindranath Tagore, seorang pengarang besar, ia menasehatkan hendaklah pola pikir guru melampaui pemikiran umat manusia pada umumnya. Guru tidak  mengedepankan sisi jasmani dan mengagungkan segi duniawi.

Kesejahteraan juga tidak terletak pada ketenaran. Apabila ketenaran menjadi ukuran kesejateraan, Michael Jackson tidak akan mengakhiri hidupnya dengan minum obat tidur sampai overdosis. Kesejahteraan juga tidak ditentukan oleh kecantikan karena jika kecantikan menjadi ukuran kesejahtaraan, Marilyn Monroe tidak akan berani menghilangkan nyawanya dengan minum alkohol sampai overdosis.

Yang perlu dikembangkan oleh seorang guru dalam hidupnya agar tetap hidup sejahtera adalah membangun kehidupannya dalam bangunan rohani. Hal ini yang kurang dalam kehidupan para guru, bahkan sisi kerohanian ini cendrung untuk dilupakan. Akibatnya, kehidupan guru tidak ada bedanya dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Kehidupan guru yang tidak didasarkan pada bangunan rohani akan mengakibatkan  terombang-ambingkan harkat dan martabatnya sebagai seorang guru.

Nasihat Mohammad Hatta yang mengajak guru harus tetap sederhana, agar orientasi guru tidak pada materi, menjadi relevan sampai sekarang. Guru hendaknya tetap dipandang sebagai pribadi yang senantiasa berwibawa dan mampu memiliki empati pada semua lapisan masyarkat.








^:^ : IP 75.101.220.230 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2020  http://www.pangudiluhur.org/